Cukup banyak orang yang sebenarnya tertarik untuk menjadi penulis. Namun, kendala tata bahasa sering menghambat mereka untuk mewujudkan cita-citanya menjadi penulis. Umumnya, mereka merasa kurang pandai dalam menyusun kalimat untuk mengungkapkan kisahnya.

            Kesadaran orang terhadap pentingnya tata bahasa selalu muncul ketika mereka ingin menulis. Namun, keterbatasan mereka dalam tata bahasa sering membuat mereka mengurungkan niat untuk menulis. Padahal, lewat kegiatan menulis, justru mereka secara perlahan-lahan akan mengalami terapi tata bahasa.

Kemampuan menyusun kalimat

            Setiap orang perlu belajar untuk menyusun kalimat agar dapat mengungkapkan pesan baik secara lisan maupun tulisan. Memang seakan beban mental bagi orang untuk menulis terasa lebih berat dari pada pengungkapan pesan secara lisan. Padahal tujuannya sama, dimana orang lain dapat mengetahui pesan yang ingin disampaikannya.

            Kemampuan untuk menyusun kalimat harus ditumbuhkan lewat latihan-latihan baik secara formal maupun non formal. Secara formal, pelatihan dilakukan secara terstruktur lewat proses pendidikan, sedangkan non formal, pelatihan dilakukan lewat pergaulan.

            Seringkali, pelatihan terstruktur dinilai lebih kaku dibandingkan dengan pergaulan, karena pelatihan terstruktur secara ketat memperhatikan pembentukan kalimat dari segi tata bahasa dan unsur-unsur pembentuk kalimat. Sementara itu, dalam pergaulan lebih dipentingkan tata arti. Di mana kalimat yang terbentuk belum tentu sempurna, tetapi yang penting lawan bicara dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan.

Terapi tatabahasa

            Lewat menulis, setiap orang dapat menterapi dirinya dalam pembentukan kalimat yang sesuai dengan aturan tata bahasa. Tentu saja terapi itu tidak dapat dilakukan sekali jadi. Terapi itu harus dilakukan secara teratur dan berulang-ulang. Semakin banyak seseorang menghasilkan tulisan, maka ia semakin terampil dalam membentuk kalimat.

            Oleh karena itu, setiap orang yang akan menulis jangan putus asa untuk selalu dan terus menerus mencoba menuangkan pesan lewat tulisan. Tulisan yang dihasilkan dalam karya pertama jangan dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa dirinya tidak pandai menulis, karena pada karya pertama itu, kalimat-kalimat yang dibentuk masih banyak yang belum sempurna.

            Jangan lelah untuk terus berlatih. Manfaatkanlah setiap kesempatan yang ada untuk menulis, sehingga penulis akan semakin terampil dalam membentuk kalimat untuk mengungkapkan pesan-pesannya.

Penulis

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

Pemrakarsa Indonesia Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *