Pada tahun 2001, Indonesia pernah memiliki visi Teknologi Informasi (TI) berbasis satelit yang diberi nama Nusantara 21 atau disingkat menjadi N21. Visi itu dirumuskan berdasarkan inspirasi Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gadjahmada yang ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Visi itu juga digunakan untuk membendung laju Singapura yang membangun jejaring TI-nya yang disebut Singapore One dan Malaysia yang merumuskan visi Multimedia Super Corridor.

Sepuluh tahun setelah N21 digulirkan, pemerintah membarui visi TI Indonesia menjadi Nusantara Super Highway yang berbasis serat optik. Pembaruan visi itu dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan dari negara-negara tetangga. Visi yang dirumuskan itu telah menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan, strategi maupun anggaran pengembangan infrastruktur TI Indonesia.

Secara bertahap,pemerintah melalui PT. Telkom telah mengganti kabel-kabel analog yang menjadi sarana komunikasi sebelumnya dengan kabel-kabel serat optik. Masyarakat pun mulai menikmati kejernihan suara, kecepatan internet untuk pengiriman gambar, animasi dan film, bahkan aplikasi-aplikasi game online.

“Hebat!” Kata itu seakan merangkum seluruh kinerja pemerintah, khususnya PT Telkom yang telah bekerja keras untuk menyediakan insfrastruktur TI yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Meski penyediaan infrastruktur serat optik belum merata terpasang di seluruh wilayah Indonesia, tetapi tampak bahwa pemerintah terus berusaha memeratakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

 

Visi pengguna

Visi Nusantara Super Highway itu seakan hanya menjadi inspirasi pemerintah dalam hal ini PT Telkom beserta mitranya untuk penyediaan insfrastruktur TI di Indonesia. Visi itu tampaknya belum menginspirasi para penggunanya. Hal itu tercermin dari tingginya penyalahgunaan infrastruktur tersebut, baik untuk penyebaran narkoba dan pornografi, prostitusi online, penipuan, pelanggaran HAKI, penyebaran hoax (berita bohong) dan fake (berita palsu), bentuk-bentuk komunikasi yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta kejahatan-kejahatan lainnya.

Tampak, pengguna belum memiliki kesatuan visi dalam memanfaatkan infrastruktur yang tersedia untuk membangun kehidupannya dan memperkuat sendi-sendi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan Negara. Seakan kebebasan yang diberikan pemerintah boleh dimanfaatkan untuk apa saja termasuk untuk hal-hal yang sifatnya merusak kehidupan bangsa dan Negara.

Hendaknya, para pengguna dapat merumuskan dan menyatukan visi untuk mengoptimalkan penggunaan infrastruktur TI guna merekatkan kebhinekaan, meningkatkan wawasan, memeratakan pendidikan, mengembangkan ekonomi, menumbuhkan demokrasi yang sehat, dan memajukan masyarakat. Tanpa kesatuan visi, maka ditengarai para pengguna akan saling melemahkan dan kurang berdaya untuk membangun bangsa.

 

Hari Kemerdekaan

Oleh karena itu, momentum peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 ini dapat digunakan untuk merumuskan dan menyatukan visi para pengguna TI Indonesia. Diharapkan, masyarakat dapat menyatukan gerak dan langkah untuk membangun negeri dengan memanfaatkan infrastruktur dan perangkat TI yang tersedia.

Seharusnya, semangat kesatuan dari para pahlawan negeri ini dalam memperjuangkan kemerdekaan dapat menginspirasi para pengguna TI untuk mengisi kemerdekaan. Visi para pengguna hendaknya dapat melampaui sekat-sekat politik, batas-batas geografi, dan perbedaan demografi. Bahkan, visi yang besar justru dapat menyatukan langkah dan tenaga untuk membangun bangsa.

Lewat pelbagai komunitas, lembaga atau asosiasi yang mewadahi para pengguna TI dapat dimulai pembahasan tentang visi pengguna TI. Kerjasama dan dialog informal antar komunitas, lembaga dan asosiasi itu diharapkan dapat menjembatani perbedaan, sehingga terbentuk kebersamaan untuk mengeksplorasi TI demi kebaikan seluruh rakyat.

 

Penutup

Penyatuan visi untuk membangun negeri ini bukanlah hal yang mustahil. Para pendahulu bangsa dengan keterbatasan teknologi komunikasi berhasil menyatukan visi untuk merdeka pada tahun 1908. Hal itu menjadi pembelajaran bagi generasi penerus yang didukung dengan ketersediaan teknologi, alam kemerdekaan dan iklim demokrasi yang kondusif. Oleh karena itu, sudah sewajarnya seluruh rakyat berharap kepada para pengguna TI yang notabene generasi penerus untuk bersama-sama memanfaatkan teknologi untuk membangun negeri ini.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat di Harian Bernas 16 Agustus 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *