Dewasa ini, teknologi informasi (TI) sudah semakin tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Apalagi masyarakat perkotaan yang setiap hari mengakses informasi dan berkomunikasi secara intens melalui smartphone atau peralatan digital lainnya, serta aplikasi media sosial. Perlahan-lahan, mereka pun membentuk “dunia” sendiri yang sering disebut sebagai “dunia digital” atau “dunia maya”.

Dalam dunia digital itu, masyarakat yang bergabung saling berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dari waktu ke waktu, interaksi di antara mereka terus berkembang. Mereka pun membentuk kelompok (grup) sesuai dengan keperluan, kepentingan dan kompetensi tertentu. Dalam kelompok-kelompok itu, mereka saling berkomunikasi untuk memperbincangkan pelbagai isu terkini, membahas suatu persoalan, kegiatan, projek atau saling berbagi informasi. Bahkan, dalam kelompok-kelompok itu, mereka juga membangun dan mengelola usaha, sehingga terbentuklah “pasar”.

 

Tatakrama

Perlahan-lahan, terbentuklah tatakrama atau etiket yang mengatur pola hubungan, pergaulan dan perdagangan di antara mereka. Tatakrama atau etiket itu terbentuk dari “kebiasaan” atau “kesepakatan” bersama dalam masyarakat tersebut. Lambat laun, tatakrama atau etiket itu akan menjelma menjadi peradaban seiring dengan bertambahnya anggota dan kompleksitas interaksi di antara mereka.

Kini, mayoritas anggota masyarakat dunia digital terdiri dari generasi muda atau yang disebut juga sebagai “generasi internet”. Jadi, tanggung jawab pembentukan peradaban dalam dunia digital ini berada di pundak mereka.

Oleh karena itu, sangat diharapkan generasi muda menyadari pentingnya peran yang disandangnya saat ini. Mereka menjadi penentu peradaban dalam dunia digital ini. Kebiasaan atau pola percakapan, interaksi, penyebaran informasi, hingga bertransaksi yang dibentuk saat ini akan menjadi pondasi dan mengkristal menjadi peradaban dari masyarakat dunia digital di masa mendatang.

Mengingat peran yang sangat penting itu, maka sudah seharusnya generasi muda mempersiapkan dan menempatkan diri sebagai pioner dalam membentuk pola percakapan yang positif, interaksi yang memperkembangkan masyarakat, penyebaran informasi-informasi yang mengandung kebenaran universal, serta membangun sistem perdagangan yang sehat dan jujur. Generasi ini juga memiliki tugas untuk mengingatkan masyarakat digital secara keseluruhan, agar mereka tidak memberikan teladan yang buruk kepada generasi selanjutnya, berupa penyalahgunaan sarana yang ada untuk kepentingan sesaat, melakukan hal-hal yang buruk, tidak terpuji atau bahkan tindak kejahatan.

 

Peradaban baru

Generasi muda memikul tanggung jawab yang besar, sekaligus memiliki kesempatan untuk mengukir sejarah peradaban dunia digital. Apa saja yang dilakukan atau disajikan dalam berbagai aplikasi media sosial akan dilihat seluruh masyarakat dan dijadikan rujukan. Sungguh mulia, bilamana generasi muda dapat melaksanakan peran ini dengan baik dan positif.

Memang tidak mudah untuk menjalankan peran itu, karena tingkat pertumbuhan masyarakat yang tergabung dalam dunia digital ini terhitung sangat tinggi. Selain itu, beberapa anggota masyarakat digital telah terlanjur menyalahgunakan sarana-sarana yang ada, bahkan melakukan tindak kejahatan. Namun, generasi muda ditantang untuk dapat menjadi figur yang mewariskan peradaban atau pemikiran yang baru, maju dan bermartabat. Tentu saja, generasi muda harus dapat memberikan keteladanan. Mulai dari memilih kata, membentuk kalimat yang positif dan membangun dalam berkomunikasi, menyebarkan informasi yang benar, hingga memanfaatkan sarana yang ada untuk membangun. Generasi muda hendaknya menghindarkan diri untuk terlibat dalam caci maki di media sosial, menyebarkan informasi bohong (hoax) atau palsu (fake), serta terlibat tindak kejahatan.

Generasi muda hendaknya dapat menawarkan, sekaligus mewujudkan rumusan peradaban baru dalam hidup sehari-hari. Selanjutnya, mereka dapat mengajak anggota masyarakat lainnya untuk menumbuhkan peradaban baru yang membangun kehidupan bersama yang sejahtera.

 

Penutup

Setiap anggota masyarakat bertanggungjawab untuk membentuk peradaban. Tidak terkecuali peradaban dalam dunia digital ini. Oleh karena itu, masing-masing anggota harus dapat berperan aktif bahkan dirinya dapat mempengaruhi anggota lain untuk ikut membentuk peradaban yang positif dan konstruktif.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat di Harian Bernas Rabu, 23 Agustus 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *