Seminggu setelah peringatan detik-detik proklamasi dengan suasana kebhinekaan dan kesatuan di Istana Merdeka, rakyat Indonesia dikejutkan dengan penangkapan sindikat Saracen oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri (23/8). Sindikat itu mengembangkan bisnis penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian yang dikaitkan dengan unsur suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang dapat berdampak pada perpecahan bangsa. Sindikat itu pun mematok harga hingga puluhan juta per proposal untuk menyudutkan orang atau lembaga. Khususnya, proposal itu berisi rancangan untuk menyudutkan kandidat peserta pemilihan kepala daerah.

Media sosial telah dijadikan sarana penyebaran isu-isu yang sensitif itu. Diperkirakan, sindikat Saracen telah mempertimbangkan pola pengguna media sosial yang dengan cepat meneruskan informasi dan mudah dipengaruhi dengan informasi yang seolah-olah benar.

 

Fenomena baru

Penangkapan sindikat Saracen menunjukkan bahwa kejahatan baru dengan memanfaatkan teknologi internet telah mulai mewarnai kehidupan rakyat Indonesia. Mereka berusaha untuk memecah belah masyarakat dengan memanfaatkan isu-isu sensitif. Ironis! Seharusnya teknologi internet dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi dan kesatuan antar warga masyarakat untuk membangun negeri malah digunakan sebaliknya untuk memecah belah bangsa.

Lebih mengagetkan lagi, bahwa usaha untuk menghancurkan negeri itu justru dilakukan beberapa orang yang notebene warga Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa kejahatan datang dari dalam negeri sendiri. Di mana, mereka tahu dengan pasti, bahwa bangsa Indonesia sangat rentan dengan isu-isu negatif, apalagi isu yang terkait SARA.

Dari pemeriksaan awal terungkap modus operandi mereka. Di mana mereka memproduksi berita-berita hoax dan mengkaitkannya dengan isu-isu yang sensitif dan ujaran kebencian sesuai proposal. Harapannya, emosi pengakses internet dapat dipermainkan dan digunakan untuk menghancurkan pihak-pihak yang dijadikan sasaran.

Di sisi lain, penangkapan sindikat itu menunjukkan bahwa Polri semakin siap dan menguasai teknologi informasi, khususnya teknologi digital forensik. Dengan demikian, Polri mampu menelusur, menangkap dan menangkal pelaku kejahatan digital.

 

Etika bisnis

Kasus kejahatan itu menarik untuk disimak. Oleh karena, sindikat Saracen melakukan kejahatan itu sebagai bentuk bisnisnya. Mereka menjual jasa untuk menyudutkan orang atau lembaga sesuai pesanan dengan memanfaatkan media sosial. Berdasarkan pengakuan tersangka, mereka menawarkan jasa tersebut kepada kandidat kepala daerah yang akan bertarung dalam pemilu kepala daerah serentak 2018 nanti.

Berdasarkan etika, seharusnya suatu bisnis didirikan dengan tujuan membangun masyarakat, bukan sebaliknya untuk menghancurkannya. Masyarakat bebas mengembangkan bisnis apa saja, asal bisnis itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhannya dan membangun kehidupan bersama. Tidak terkecuali, bisnis di lingkungan internet juga seharusnya sesuai dengan konsep tersebut.

Berbisnis di lingkungan internet bukan berarti bebas tanpa batas. Seseorang atau sekumpulan orang yang akan membangun bisnis hendaknya memperhatikan rambu-rambu etika yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, bisnis di lingkungan internet juga memberikan dampak positif bagi kemajuan perekonomian nasional.

Orang atau lembaga yang dengan sengaja mengembangkan bisnis yang berisi kejahatan hendaknya segera dihentikan langkahnya. Apalagi mereka telah mengoptimalkan penggunaan perangkat teknologi informasi yang berdampak luas dalam waktu sekejap.

 

Penutup

Terungkapnya bisnis hoax tersebut telah menambah pekerjaan pemerintah, kepolisian, ilmuwan, profesional dan pemerhati internet yang sedang menyelesaikan persoalan konten pornografi, penipuan online, transaksi narkoba dan distribusi informasi kelompok radikal. Tentu saja, dukungan seluruh rakyat dibutuhkan untuk mencegah munculnya kreativitas negatif atau penyalahgunaan teknologi yang berdampak luas. Saatnya, kreativitas setiap warga yang menguasai teknologi diarahkan untuk membangun negeri dari pada menghambat pembangunan, apalagi menghancurkannya.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, Rabu, 6 September 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *