Generasi Z adalah sebutan dari Bruce Horovitz (2012) bagi mereka yang terlahir antara tahun 1995-2014. Generasi ini memiliki beberapa nama sebutan, seperti Gen Z dan Generasi Internet. Tidak terasa, kini angkatan pertama dari Gen Z tersebut telah memasuki usia 22 tahun. Di mana, mereka sudah dapat disebut sebagai orang yang dewasa.

Sebagai warga Negara, mereka juga telah memiliki KTP yang berarti mereka memiliki hak pilih dalam pemilu yang dapat menentukan arah dan masa depan bangsa. Mereka dapat membuat SIM yang berarti mereka dapat menentukan moda transportasi dan tingkat kepadatan lalu lintas. Mereka sudah ikut melamar lowongan-lowongan kerja dan membuat usaha sendiri, serta memiliki daya beli yang berarti mereka telah ikut membangun perekonomian negara.

Gen Z diprediksi akan membawa warna baru seiring dengan penggunaan teknologi informasi (TI) khususnya internet. Bahkan, tidak sedikit dari antara mereka yang tidak sekedar menjadi pengguna TI, melainkan mereka telah menjadi pengembang aplikasi-aplikasi dan produk-produk bisnis, pendidikan dan lain sebagainya berbasis TI.

 

Karakter gen Z

Mereka yang terlahir sebagai Gen Z dikenal memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka merupakan pengguna aktif dari perangkat-perangkat TI dengan frekuensi penggunaan sesering mungkin. Dalam lamannya, situs Tirto.id mengungkapkan bahwa umumnya, mereka ingin kemudahan, flesibilitas sekaligus kenyamanan dalam berbelanja (di mall), belajar (berbasis internet), makan (cepat saji) dan menikmati hiburan (online).

Gen Z cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang siklusnya dari waktu ke waktu semakin pendek. Mereka lebih terbuka terhadap pandangan dan pendapat orang lain, bersikap global, serta kreatif sebagai seorang entrepreneur.

Meski mereka tercatat memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tetapi mereka juga memiliki sejumlah kelemahan. Dalam situs Tirto.id diungkapkan, bahwa generasi ini kurang fokus dan lebih bersifat individualistis.

 

Sumber daya Gen Z

Kelemahan Gen Z itu mengakibatkan mereka mudah terpengaruh oleh tawaran-tawaran yang muncul silih berganti di lingkungan internet. Mereka mudah terperangkap perbincangan dalam grup-grup media sosial atau game online.

Mereka mudah dipengaruhi informasi-informasi sensasional di media sosial bahkan hoax, karena mereka tidak memiliki kecukupan data dan informasi sebagai pembanding. Penelitian Tapscot (2013) menunjukkan, meski Gen Z sangat lekat dengan perangkat-perangkat TI, tetapi terjadi pendangkalan wawasan, karena budaya membaca pustaka (e-book, e-journal, e-magazine) tidak tumbuh dalam dirinya.

Mereka lebih banyak berbincang di media sosial. Mereka dengan cepat merespon atau ikut mendistribusikan setiap informasi yang muncul tanpa melakukan klarifikasi kebenaran informasi tersebut terlebih dahulu.

Tanpa terasa, kelemahan mereka itu telah menggerus sumberdaya yang dimiliki, khususnya waktu, tenaga dan dana tanpa memberi hasil yang maksimal bagi kehidupannya maupun perkembangan negara. Bahkan bila tidak diwaspadai, justru potensi-potensi Gen Z dapat dibelokkan untuk melemahkan bangsa sendiri.

 

Penutup

Kini, saatnya Gen Z menjadi penentu masa depan negeri. Oleh karena itu, Gen Z harus segera menata diri, memperbaiki pola baca untuk meningkatkan wawasan dan mengembangkan manajemen sumber daya. Karakter unggul dari Gen Z hendaknya terus diasah. Sikap terbuka terhadap pandangan orang lain dapat menjadi pintu untuk memperbaiki kelemahan diri. Keterampilan berteknologi dan daya kreativitas yang tinggi hendaknya diarahkan untuk membangun negeri, dari pada sebatas untuk memuaskan diri.

 

Penulis

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat di Harian Bernas, Rabu, 13 September 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *