Dewasa ini, kehadiran teknologi informasi (TI) semakin dipopulerkan oleh para ahli, praktisi, pendidik dan perusahaan-perusahaan pemasok perangkat-perangkat TI. Pelbagai seminar terus digelar untuk menyakinkan masyarakat, dan menggiring perusahaan dan lembaga, agar mereka segera beralih menggunakan teknologi tersebut sebagai alat bantu kerja utamanya. Selain itu, produsen, distributor dan toko-toko perangkat TI semakin rajin menggelar pameran, agar pengguna TI semakin mudah mendapatkan informasi dan barang-barang yang dibutuhkannya.

Perusahaan dan lembaga yang telah menyerap perangkat-perangkat TI pun mulai meninjau kembali proses bisnis dan prosedur kerjanya. Sedapat mungkin, mereka mengotomatisasi semua proses dan prosedur administrasi maupun produksinya. Dengan demikian, perusahaan dapat menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa layanan dengan cepat, murah dan berkualitas.

Berbagai perangkat lunak aplikasi perkantoran, keuangan, kendali produksi dan pemasaran terus tercipta untuk menjawab kebutuhan perusahaan dan lembaga. Tersedia banyak pilihan perangkat keras dan aplikasi yang sejenis, karena perusahaan-perusahaan perangkat TI juga berlomba-lomba untuk mencipta dan berinovasi.

 

Sisi positif

Di satu sisi, pergeseran pola kerja konvensional ke sistem yang terotomatisasi dinilai sangat positif. Di mana, data dapat dicari dengan cepat dan proses pengolahannya dapat berlangsung dengan cermat. Semua prosedur dapat dioperasikan sesuai standar yang ditetapkan.

Penggunaan perangkat-perangkat TI dapat meminimalkan penyalahgunaan wewenang pejabat untuk mengintervensi proses yang sedang berlangsung. Perangkat-perangkat itu akan “memaksa” setiap pengunaanya untuk patuh dalam mengoperasikan semua prosedur sesuai dengan standarnya masing-masing.

TI memastikan semua proses berlangsung sesuai ketentuan. TI dapat memantau setiap pemasukan data dan transaksi, sehingga pengelola usaha atau lembaga dapat memantau dan mengawasinya dengan teliti. Selain itu, laporan-laporan dapat segera tersusun dengan rapi.

 

Tantangan

Kehadiran perangkat-perangkat yang canggih dengan kecepatan olah data yang tiada tara itu memang telah mendukung peningkatan kinerja perusahaan dan lembaga. Dari segi kecepatan dalam memberikan tanggapan, proses produksi, promosi elektronik maupun distribusi informasi, perangkat-perangkat itu sudah tidak diragukan lagi.

Namun, perusahaan dan lembaga ditantang untuk mengalokasikan anggaran yang tidak kecil untuk membeli, memelihara dan membarui perangkat-perangkat tersebut. Akibatnya, perusahaan dan lembaga yang skala ekonominya kecil akan menanggung beban yang sangat besar untuk berkompetisi dengan perusahaan dan lembaga yang memiliki kecukupan modal. Hal itu tentu menimbulkan kegelisahan tersendiri dari para pemilik usaha dan pengelola lembaga yang anggarannya sangat terbatas.

Dalam kondisi itu, perusahaan atau lembaga yang menguasai teknologi berpeluang meninggalkan bahkan menyingkirkan kompetitornya. Namun, bukan berarti para pekerjanya akan memperoleh peluang karir yang lebih baik. Kini, di perusahaan atau lembaga yang besar, banyak lini pekerjaan yang diambil alih perangkat-perangkat TI. Keberadaan pekerja konvensional pun makin terdesak. Mereka yang memiliki daya adaptasi ditantang untuk segera menguasai keterampilan TI agar dirinya dapat bertahan. Selebihnya mereka terpaksa harus pensiun dini dan beralih pada wirausaha. Sementara itu, Lapangan kerja formal pun makin sempit dan jenjang karir makin pendek.

 

Sikap pekerja

Pekerja konvensional yang tidak mau menguasai keterampilan TI akan terus tergerus oleh inovasi TI yang berlangsung dengan cepat dan hebat. Tidak ada jalan, kecuali para pekerja segera belajar dan berlatih untuk mengoperasikan bahkan mengeksplorasi perangkat-perangkat TI untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan harian.

Jangan takut dengan perangkat-perangkat TI yang tampak semakin canggih, karena inovasi para ahli justru akan menghasilkan perangkat-perangkat yang makin mudah untuk dioperasikan. Para pekerja konvensional jangan putus harapan dengan hadirnya inovasi TI yang begitu cepat akhir-akhir ini.

Buatlah kelompok-kelompok belajar dan diskusi. Hadirkanlah para ahli, akademisi dan mahasiswa perguruan tinggi untuk memberi wawasan dan keterampilan tentang teknologi yang terbaru. Dengan demikian, para pekerja dapat segera beradaptasi dan menguasai teknik pengoperasian peralatan-peralatan baru yang dibeli perusahaan dan lembaga.

Sebaiknya para pekerja tidak bersikap pasif atau statis. Justru sebaliknya, para pekerja harus bersikap aktif dan dinamis untuk menyerap pengetahuan dan keterampilan dari teknologi inovasi terbaru, agar para pekerja terus bertahan bahkan mampu mengeksplorasi teknologi yang digunakannya.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, Rabu, 20 September 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *