Akhir-akhir ini, kata “Google” semakin sering disebut di dalam kelas, seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, maupun dalam percakapan sehari-hari. Bahkan kata “Google” sering ditambah dengan kata sebutan, seperti “Mr. Google”, “Mbah Google”, “Om Google” dan sebutan lainnya yang mengesankan kedekatan sekaligus ketergantungan masyarakat terhadap aplikasi pencarian Google tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi bila masyarakat pengguna internet telah mengandalkan aplikasi tersebut. Google sangat membantu pencarian berita, feature, artikel popular, jurnal ilmiah, slide presentasi bahan ajar, gambar, aplikasi, peta, terjemahan dan lain sebagainya. Tanpa Google, data dan informasi di Internet yang jumlahnya mencapai miliaran itu akan sulit ditemukan.

Google disukai semua pengguna internet, karena pengoperasiannya sangat mudah dan sederhana. Google akan membantu memunculkan data atau informasi berdasarkan kata kunci yang diberikan pengakses. Semakin terinci kata kunci yang dimasukkan, maka pengakses semakin cepat menemukan data atau informasi yang dicari.

Namun, kemudahan untuk mencari dan mendapatkan data dan informasi itu justru “memanjakan” pengguna. Di mana, Google dimanfaatkan untuk mencari jawaban dari setiap tugas rumah, soal-soal ujian, atau studi kasus. Akibatnya, para pengguna itu hanya terlatih menggunakan Google sebagai sarana pencarian dari pada membentuk pola pikir atau logika pemecahan masalah.

 

Fungsi sekolah

Suatu kali, seorang siswa SMA mempertanyakan tentang fungsi sekolah. Menurutnya, fungsi sekolah tidak ada bedanya dengan kursus public speaking. Kesan itu diperoleh sang siswa, karena setiap guru terkesan hanya sibuk memberikan tugas untuk dipresentasikan para siswa dari pada menjelaskan matapelajaran yang diampunya dengan gamblang. Akibatnya, para siswa yang belum memahami matapelajaran itu memilih “jalan pintas” dengan mencari slide presentasi di Google sesuai dengan kriteria permintaan sang guru.

Ketika tiba hari presentasi, para siswa mempresentasikan slide presentasi yang ditemukannya melalui Google. Asal berani berbicara dan dapat menciptakan suasana tanya jawab, maka sang siswa mendapatkan nilai yang tinggi, walaupun sebenarnya mereka tidak memahami materi yang disajikannya.

Jika kemandirian dan “melek” teknologi informasi yang terbentuk dalam diri siswa hanya sebatas mampu menggunakan mesin pencari Google, maka sekolah tidak akan melahirkan ilmuwan dan profesional di masa mendatang. Mereka hanya akan melahirkan “operator” mesin pencari data dan informasi saja.

 

Proses belajar

Mesin pencari Google itu seharusnya hanya ditempatkan sebagai sarana pendukung untuk menemukan referensi, jurnal, data atau informasi pendukung lainnya. Di sekolah, proses belajar yang sesungguhnya seharusnya dapat membentuk cara atau logika berpikir dalam memecahkan masalah, sikap mental yang positif dan keterampilan dalam diri para siswa.

Gagalnya proses transfer logika berpikir, sikap mental dan keterampilan itu akan membentuk para siswa menjadi “Generasi Google” yang menggantungkan semata-mata pada hasil temuan mesin pencari tersebut. Apalagi, jika guru tidak memberikan umpan balik yang kritis dari hasil temuan para siswa itu, maka terbentuk persepsi bahwa semua hasil temuan mesin pencari itu benar. Sikap kritis pun tidak akan tumbuh dalam diri mereka, sehingga semua data dan informasi dianggap benar, sekalipun tidak sesuai dengan teks dan konteksnya.

Oleh karena itu, harus dipastikan bahwa proses belajar diarahkan untuk membentuk logika, sikap mental dan keterampilan para siswa, agar mereka memiliki kemandirian dalam memecahkan masalah kehidupan di masa mendatang. Sementara itu, keterampilan mengoperasikan Google hanya diperlukan untuk mempercepat penemuan data dan informasi yang digunakan sebagai dasar untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, Rabu, 4 Oktober 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *