Lima tahun terakhir ini, para produsen perangkat keras maupun perangkat lunak teknologi informasi (TI) telah berhasil menggiring opini masyarakat umum dan akademis. Mereka telah menanamkan suatu keyakinan bahwa TI merupakan satu-satunya sarana penentu daya saing dan keberhasilan di segala bidang.

Masyarakat telah diyakinkan dengan munculnya perangkat-perangkat keras yang semakin canggih dan aplikasi-aplikasi yang kreatif. Hasil inovasi para produsen itu telah mampu menyederhanakan proses, mempercepat operasi dan memperluas jangkauan relasi.

Akibatnya, penyerapan perangkat dan aplikasi TI meningkat dengan pesat. Bahkan, masyarakat semakin berlomba-lomba untuk memiliki perangkat-perangkat TI yang terbaru dan berbondong-bondong untuk bertransformasi menuju era digitalisasi informasi dan layanan. Masyarakat pun segera meninggalkan pola bisnis, produk dan media konvensional yang dianggap telah ketinggalan jaman. Namun, benarkah opini yang dibangun oleh para produsen TI tersebut?

 

Pengkondisian

Para produsen terus berusaha dengan segala cara untuk membentuk opini, agar masyarakat segera beralih dari media konvensional menuju digital. Dengan kepiawaiannya, para produsen terus berusaha menunjukkan pelbagai manfaat dan keuntungan dari penggunaan TI.

Akhir-akhir ini, upaya pengkondisian yang dilakukan para produsen itu mulai menampakkan hasil. Hal itu ditandai dengan tumbuhnya model-model baru dalam bisnis yang ditunjang oleh inovasi TI, seperti halnya perusahaan-perusahaan baru yang dioperasikan secara online (baca: startup).

Secara perlahan-lahan, masyarakat telah digiring untuk menggunakan aplikasi-aplikasi online dalam berbelanja barang atau jasa. Secara bertahap, sejumlah layanan umum pun telah dialihkan menuju perangkat-perangkat TI. Mudah dan cepatnya proses pengoperasian, serta murahnya harga barang dan jasa yang diperoleh melalui aplikasi-aplikasi online telah menjadi daya pikat untuk menarik minat masyarakat, agar mereka mau segera beralih ke era digital.

 

Paradoks

Para produsen telah menggelontorkan banyak dana untuk melakukan riset dan pengembangan produk-produk digital yang baru. Selain itu, mereka juga telah menyisihkan dana yang sangat besar untuk pelbagai upaya guna mengkampanyekan dunia digital yang diciptakannya.

Namun, tingginya animo masyarakat untuk memanfaatkan perangkat dan aplikasi TI itu ternyata masih berbanding terbalik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi negara. Hal itu diperlihatkan Ekonom INDEF Bhima Yudhistira bahwa porsi toko online masih dibawah 1% dibandingkan total ritel nasional (Berita Sepuluh , 19/10).

 

Jangan mudah tergiring

Kenyataan yang paradoks itu hendaknya menjadi bahan refleksi, agar masyarakat tidak mudah digiring oleh para produsen. Apalagi, muara akhir dari upaya para produsen itu adalah penyerapan produk-produk yang diproduksinya, sehingga mereka dapat meraih keuntungan yang setinggi-tingginya.

Hendaknya, masyarakat tidak sekedar mengkonsumsi perangkat-perangkat canggih itu. Sangatlah tepat bila masyarakat benar-benar mempertimbangkan setiap keputusan untuk menyerap perangkat-perangkat TI itu.

Janganlah mengkonsumsi perangkat-perangkat itu hanya didasarkan pada keinginan sesaat atau gengsi, karena setiap pembelian perangkat-perangkat itu akan mengurangi devisa negara. Sebaiknya, masyarakat benar-benar merencanakan pembelian dan berlatih untuk memanfaatkan teknologi itu dengan benar, agar perangkat-perangkat itu memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat bersikap kritis dalam menyikapi berbagai tawaran dan kampanye yang dilakukan oleh para produsen. Pertimbangkanlah dengan seksama setiap pembelian perangkat dan aplikasi TI, agar perangkat dan aplikasi itu membuahkan keuntungan yang maksimal. Janganlah membiarkan diri untuk digiring oleh para produsen. Apalagi bila muara akhirnya hanya untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang diproduksi para produsen itu.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas 15 Nov 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *