Sabtu (2/12) yang lalu baru saja diperingati Hari Guru Nasional (HGN) di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi Jawa Barat. Presiden Joko Widodo yang hadir dalam cara itu menitipkan masa depan bangsa kepada para guru. Presiden berpesan, agar para guru tidak hanya mengajar, tetapi mereka juga diharapkan berperan untuk memupuk dan menerangi orang muda (para siswa) dalam membangun jiwa yang sehat, matang dan memahami Bhinneka Tunggal Ika.

Pada kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa guru tidak akan tergantikan teknologi canggih. Apalagi guru tidak hanya mengajar secara akademik semata, tetapi guru juga bertugas membentuk karakter dan menggerakkan jiwa orang muda pada kebenaran dan kebaikan.

Namun Kamis (30/11) atau dua hari sebelum peringatan HGN itu telah dikeluarkan hasil penelitian Istiana Hermawati dan Endro Winarno bertempat di Kementerian Sosial. Hasil penelitian itu mengungkap kemudahan mengakses internet melalui telepon genggam membuat orang muda, khususnya anak-anak mudah terpapar pornografi. Bahkan hal itu mendorong terjadinya kekerasan seksual anak terhadap anak. Temuan itu tentu menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi para guru di era teknologi informasi (TI) dewasa ini.

 

Eforia penggunaan TI

Saat ini sedang terjadi eforia penggunaan TI. Apalagi, TI terlanjur dicitrakan sebagai alat yang canggih dan serba bisa untuk menjawab kebutuhan setiap orang. Akibatnya, hampir setiap orang muda berlomba-lomba untuk memilikinya. Bahkan, mereka telah menjadikan perangkat-perangkat itu sebagai syarat mutlak untuk bergaul.

Tampaknya industri TI menangkap peluang dari eforia itu. Mereka berusaha menangkap dan memenuhi segala impian orang muda dalam menggunakan TI. Alhasil, seluruh produk TI terserap oleh orang muda.

Mereka pun seakan segera berpindah ke dunia TI dan meninggalkan proses konvensional. Mereka merasa asyik dan nyaman dengan segala fasilitas yang terkandung di dalamnya, walaupun tanpa terasa mereka harus membayar mahal untuk memiliki perangkat dan aplikasi yang diperlukannya.

 

Penyalahgunaan

Oleh karena eforia itu, orang muda pun terus mengeksplorasi penggunaan perangkat-perangkat canggih itu. Banyak di antara mereka yang mengunggah informasi, jati diri dan foto-foto pribadinya untuk dilihat orang lain. Bahkan, mereka menginformasikan setiap kegiatannya, agar orang lain seakan dapat mengikuti aktivitasnya.

Sementara itu, ada orang-orang yang menyalahgunakan teknologi tersebut. Kebebasan untuk mengunggah informasi pun telah disalahgunakan untuk mengunggah tulisan, gambar dan video terkait pornografi dan pornoaksi, kekerasan, hasutan maupun informasi lain merugikan bangsa dan negara.

Orang-orang yang menyalahgunakan teknologi itu dengan segaja memproduksi konten-konten yang tidak layak dan ditebar di lingkungan internet. Akibatnya, konten-konten itu dapat ditemukan dengan mudah oleh siapa saja.

 

Tantangan guru

Orang-orang muda yang terlanjur percaya secara absolut terhadap TI menganggap semua yang tersaji di internet itu benar dan boleh dikonsumsinya. Apalagi dengan pengetahuan literasi yang kurang, mereka telah mengkonsumsi semua informasi tanpa mengkritisinya. Parahnya lagi, ketika mereka melakukan hal-hal buruk yang pernah dilihatnya di internet.

Kini, para guru menjadi harapan masyarakat untuk membendung hal-hal itu, agar orang-orang muda tidak terjebak dalam penyalahgunaan TI dan menjadi korban. Hal-hal buruk itu dapat dibendung, pengakses bila mereka memiliki kemampuan literasi yang positif, sikap mental dan karakter sebagai pembangun bangsa. Hal itu tentu saja menjadi tantangan yang tidak ringan bagi para guru.

Untuk menjalankan perannya, tentu para guru harus memulai dari dirinya sendiri. Di mana, para guru harus terus menerus menumbuhkan kemampuan literasi TI, mengingat TI terus dikembangkan para produsen. Para guru juga perlu mengembangkan pola-pola pembelajaran yang baru dan tepat untuk membentuk karakter, kepribadian, sikap mental, logika dan kemampuan literasi teknologi dalam diri orang muda. Selain itu, para guru harus dapat membangun relasi yang positif dengan orang muda, agar pengajaran para guru dapat diterima dan membentuk orang muda.

 

Penutup

Dilihat dari tantangan-tantangan yang makin banyak di era TI, maka peringatan HGN ini hendaknya dijadikan momentum untuk konsolidasi, agar mereka segera meningkatkan kemampuan literasi teknologi dan kemampuannya untuk mengajar. Saatnya, para guru menunjukkan keteladanannya dalam menggunakan TI secara positif dan inovatif untuk memajukan peradaban masyarakat, bangsa dan negara.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas 6 Des 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *