Perhelatan politik di tahun 2017 telah menyisakan catatan buram dalam pemanfaatan teknologi informasi (TI). Di mana, TI telah disalahgunakan pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi-informasi bohong yang dikenal dengan sebutan hoax. Informasi-informasi bohong sengaja ditebar untuk menyudutkan atau minimal menumbuhkan kebimbangan masyarakat terhadap pihak-pihak yang disasar informasi bohong itu.

Semula informasi bohong itu diduga hanya terkait dengan persoalan politik. Namun ternyata, selepas perhelatan politik, informasi-informasi bohong itu tetap saja ada dengan beragam motif yang melatarbelakangi peredarannya. Pihak-pihak pembuat informasi bohong itu diduga memanfaatkan kondisi rendahnya kemampuan literasi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat mudah diombang ambingkan informasi-informasi itu dan digerakkan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang belum tentu menguntungkan masyarakat.

Banyak pihak telah menuding bahwa kondisi akhir-akhir ini sebagai dampak dari kehadiran TI. Namun, bila ditilik kembali, TI hanyalah sekedar sarana distribusi informasi secara cepat dengan jangkauan yang sangat luas. Oleh karena itu, ke depan, tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana meningkatkan kemampuan literasi, khususnya kemampuan untuk menganalisis informasi yang diterima dan akan disebarkannya.

 

Literasi informasi

Dari berbagai pendapat para ahli dapat diambil intisari tentang literasi informasi, yaitu kesadaran akan ada dan pentingnya informasi, kemampuan mengidentifikasi, menemukan, menganalisis, mengolah dan menggunakannya secara proporsional sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkannya. Sementara itu, di era TI, literasi informasi juga terkait dengan kemampuan seseorang menggunakan perangkat-perangkat teknologi untuk menghasilkan dan menyebarluarkan informasi.

Untuk memupuk keterampilan literasi tersebut, maka setiap orang hendaknya selalu menyadari bahwa informasi itu sangat penting untuk membangun kesadaran, memperluas wawasan, membentuk logika dan memperoleh jawaban atas setiap tantangan yang dihadapinya. Bila seseorang mulai mengabaikan informasi berarti ia mulai menutup diri terhadap perkembangan dan penemuan orang lain. Dengan demikian, dirinya perlahan-lahan akan menjadi “kerdil” dan tidak mampu menanggapi persoalan dan tantangan yang muncul.

 

Meningkatkan literasi

Oleh karena itu, seorang perlu terus menerus mengasah kemampuan literasinya, sehingga ia dapat mengidentifikasi informasi yang diperlukannya secara terinci, menemukan sumber-sumber dan informasi-informasi yang terpercaya, menganalisis setiap informasi yang diterimanya, mengolah dan menggunakannya secara proporsional sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkannya.

Terkait kemampuan untuk menganalisis informasi, seseorang perlu terus menerus belajar untuk menggali dan memastikan kebenaran setiap informasi yang diterimanya. Ia harus belajar bertanya untuk menggali data atau informasi yang masih tersembunyi. Lalu data atau informasi itu akan dihubungkan satu dengan yang lainnya, agar ia dapat mengetahui keterkaitan data dan informasi yang diperolehnya, baik dampak negatif dan manfaatnya, serta objektivitas, tujuan dan kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Jika seseorang tidak memiliki kemampuan menganalisis, maka ia akan mudah menyerap semua informasi, karena ia tidak mampu memilah antara informasi yang benar dan bohong. Selain itu, ia mudah terpengaruh informasi yang sifatnya “bombastis” atau mengejutkannya, karena ia tidak memiliki informasi pembanding.

 

Fasilitator dan sarana

Proses belajar untuk meningkatkan kemampuan literasi seseorang perlu mendapatkan perhatian khusus. Terutama untuk ketersediaan sarana dan fasilitator belajar.

Sarana lebih mudah untuk disediakan asal ia memiliki dana yang diperlukan untuk membelinya. Namun, ketersediaan sarana saja belum tentu berdampak banyak. Unsur lain yang perlu disediakan adalah para fasilitator yang diharapkan dapat memotivasi dan mengajarkan keterampilan untuk menganalisis informasi.

Analisis informasi dapat dilakukan oleh siapa saja. Kegiatan itu dimulai dari memperhatikan judul. Dimana, judul yang “bombastis” perlu dibaca dengan lebih teliti dan dilihat kesesuaiannya dengan isinya. Selanjutnya, pembaca dapat merasakan pertumbuhan logika berpikir yang diketengahkan penulis. Sikap kritis atas sebuah informasi harus terus dibangun sebagai bentuk kewaspadaan pembaca terhadap informasi bohong. Pada akhirnya, pembaca harus berani bersikap untuk menolak atau minimal ia tidak ikut serta dalam penyebarluasan informasi-informasi bohong tersebut.

 

Penutup

Di era informasi ini, sudah saatnya masyarakat untuk meningkatkan literasi informasi. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati informasi yang tersaji sekaligus juga menyaring informasi-informasi yang tidak benar.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas 13 Des 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *