Sejak bisnis rintisan berbasis internet (startup) digulirkan beberapa tahun terakhir ini, kompetisi antar pebisnis berlangsung sangat ketat. Mereka saling berebut konsumen (pembeli baru) atau pelanggan dengan menawarkan produk-produk unggulan yang disertai dengan harga penawaran yang spesial.

Mereka pun berlomba menata penampilan situs Web bisnisnya sedemikian rupa, agar penyajian foto atau animasi produk-produknya tampak apik dan menawan hati. Pelbagai layanan, seperti kecepatan respon, layanan kirim gratis, garansi dan layanan perbaikan produk disediakan, agar konsumen merasa nyaman dalam mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkannya.

Namun, di tengah kerja keras untuk mendapatkan konsumen, para pebisnis pun harus ekstra memperhatikan para pelanggannya, agar mereka tidak “ditarik” oleh pesaingnya. Terbayang betapa besarnya energi yang harus disiapkan oleh para pebisnis baik untuk meraih konsumen, maupun mempertahankan pelanggan.

 

Ajang rebutan

Tidak terasa, masyarakat telah “diperebutan” oleh para pebisnis. Mereka diberi tawaran-tawaran yang menarik dan dibangkitkan sikap konsumtifnya. Pelbagai taktik diciptakan untuk membangun persepsi merek dan produk yang unggul, kebanggaan menggunakan produk itu dan kesempatan mendapatkannya dengan harga yang “murah”.

Tidak sedikit pebisnis yang mengkontrak artis atau tokoh panutan untuk menarik minat masyarakat. Selain itu, mereka membuat animasi atau film tentang penggunaan produk-produk yang ditawarkannya untuk menumbuhkan imajinasi penggunaan produk bagi masyarakat yang mengakses situs bisnis itu.

Tidak hanya itu, para pebisnis pun bekerja sama dengan perbankan yang memberikan layanan pinjaman cepat dan praktis melalui kartu kredit untuk membantu masyarakat yang berminat membeli, tetapi mereka tidak memiliki dana yang mencukupi. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menunggu waktu gajian atau menabung terlebih dahulu untuk merealisasikan niatnya dalam membeli produk.

Di samping itu, para pebisnis juga membangun kerjasama dengan pihak ketiga untuk menjamin bahwa konsumen tidak akan dirugikan. Jadi seharusnya tidak ada alasan lagi bagi konsumen untuk menunda pembelian. Singkat kata, para pebisnis terus berusaha untuk menimbulkan perasaan seakan-akan “rugi” bila mereka tidak ikut membeli produk pada kesempatan tersebut.

 

Perpindahan konsumen

Namun, segala usaha yang telah dilakukan oleh para pebisnis itu tidak dapat menjamin tidak adanya perpindahan konsumen. Apalagi, masyarakat yang mengakses web sangat terbuka untuk “digoda” oleh iklan-iklan elektronik yang muncul setiap saat.

Masyarakat pun dengan mudah dapat membandingkan produk di satu situs dengan situs web bisnis yang lain. Mereka dapat berpindah dengan cepat tanpa harus berkendara dan mengeluarkan biaya parkir motor atau mobil.

Sejumlah pebisnis pun mengeluhkan betapa sulitnya untuk menjaga loyalitas konsumen di era bisnis rintisan ini. Begitu pebisnis tidak dapat menyediakan produk sesuai selera konsumen, maka mereka akan segera berpindah menuju situs yang lain.

 

Pengetahuan produk

Meski terasa sulit, tetapi masih ada cara untuk mempertahankan konsumen. Di mana, para pebisnis dapat mentransfer pengetahuan atas produk yang ditawarkannya selain upaya-upaya yang telah dirintis selama ini.

Umumnya, para pebisnis hanya terfokus pada “perang” harga. Belum banyak pebisnis yang mentransfer pengetahuan atas produk-produknya kepada masyarakat. Kini saatnya, pebisnis untuk menceritakan latar belakang munculnya ide dan kreasi produk-produk yang ditawarkannya. Selain itu, berilah penjelasan yang singkat, tetapi jelas tentang keunggulan-keunggulan yang terkandung di dalamnya.

Para pebisnis perlu menjelaskan istilah-istilah yang digunakannya, seperti sepatu yang ergonomic, mesin cuci yang user friendly, baju slim fit, beras organic, sayur hydroponic dan lain sebagainya. Selain itu, masyarakat juga kurang informasi tentang manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari penambahan fitur-fitur baru pada produk, seperti kantong-kantong pada jaket, lapisan Teflon pada pengorengan, slot-slot pada tas komputer, cahaya pada ujung pena, deteksi sidik jari pada mouse, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, pengetahuan atas produk itu akan menjadi alasan yang rasional bagi masyarakat untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. Bahkan pengetahuan atas produk itu juga menjadi alasan utama bagi konsumen untuk melakukan pembelian berulang dan menjadi pelanggan yang setia selamanya.

 

Penutup

Di tengah persaingan yang sangat ketat dewasa ini, maka tiba saatnya bagi para pengembang bisnis rintisan untuk menambahkan fitur transfer pengetahuan atas produk di situs web bisnisnya. Dengan cara itu, maka masyarakat memiliki bekal dalam membuat keputusan dan alasan yang rasional untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan oleh para pebisnis.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S. Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas 24 Januari 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *