Akhir-akhir ini, Bisnis rintisan (startup) terus diminati “generasi Now” yang notabene remaja dan orang dewasa muda. Model bisnis yang dapat diterapkan di segala bidang itu telah berkembang sangat pesat. Apalagi ada eforia belanja online yang dilakukan “generasi Now” dan sejumlah kalangan yang cepat beradaptasi dengan teknologi informasi (TI).

Sejumlah kalangan pun tertarik untuk ikut menekuni bisnis rintisan tersebut. Apalagi ada kesan bahwa bisnis ini tidak membutuhkan biaya besar untuk penyediaan infrastruktur dan SDM sebagaimana bisnis konvensional. Sekilas pandang, mereka beranggapan bahwa bisnis rintisan dapat dikerjakan sendiri oleh pemilik dengan bantuan TI, sehingga mereka tidak perlu menyerap banyak SDM.

Namun, benarkah bahwa bisnis rintisan ini tidak membutuhkan SDM atau sebaliknya, bisnis ini justru membuka peluang kerja baru? Jika terbuka peluang kerja baru, bagaimana cara untuk mempersiapkan diri, agar peluang itu dapat diraih?

 

Menengok bisnis rintisan

Istilah bisnis rintisan memang sering menimbulkan kesan bisnis dalam skala kecil atau bisnis yang baru saja dimulai. Padahal, sejumlah bisnis rintisan sudah memiliki omzet yang tidak kecil lagi dibandingkan dengan bisnis konvensional yang sudah mapan.

Beberapa bisnis rintisan yang bertumbuh dengan pesat, antara lain bisnis makanan hewan peliharaan, sepatu, pakaian dan produk-produk yang menjadi kebutuhan “generasi Now”. Walaupun jumlah omzetnya sangat bervariasi, tetapi menurut pengakuan sejumlah pelaku, bahwa bisnis yang mereka geluti itu sudah memberikan keuntungan yang memadahi.

Oleh karena itu, para pemilik tentu ingin terus memperbesar omzet bisnisnya lagi. Saat itulah, mereka mulai membutuhkan banyak SDM yang bertugas untuk menangani sistem online yang menjadi sarana pemasaran, penjualan dan pembayaran. Selain itu, pemilik juga membutuhkan SDM untuk menangani proses pengemasan, pengiriman hingga penanganan garansi, persediaan barang dan relasi konsumen.

 

Kriteria SDM

Jadi peluang kerja justru terbuka luas. Namun, SDM yang ingin meraih peluang itu dituntut untuk menguasai keterampilan teknis pengoperasian TI. Selain itu, SDM yang ingin bergabung dalam bisnis ini harus memiliki wawasan yang luas, khususnya pengetahuan yang mencakup semua lini bisnis yang sedang dikembangkannya, serta memiliki kecepatan kerja yang tinggi.

SDM yang berkecimpung dalam bisnis ini diharapkan memiliki kecepatan dalam berpikir dan merespon dinamika konsumen dan pemasok, serta memiliki relasi yang luas dengan semua pihak yang terkait lainnya. Semakin luas jejaring relasi, maka bisnis itu semakin cepat bertumbuh kembang. Selain itu, keluasan relasi juga dapat menekan biaya pemasaran dan meningkatkan konsumsi produk-produk yang ditawarkan.

Di samping itu, untuk menjaga eksistensi bisnis rintisan dibutuhkan SDM yang kreatif dan inovatif, sehingga penampilan situs, sistem bisnis dan produk-produk yang ditawarkan selalu diperbarui. Jika pembaruan berlangsung lambat, maka bisnis rintisan itu dapat segera ditinggalkan konsumen. Mereka dapat beralih ke situs bisnis yang sejenis yang tampak lebih kreatif dan selalu baru.

 

Persiapan SDM

Oleh karena itu, SDM yang ingin bergabung dalam sistem bisnis rintisan ini harus segera meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. “Membaca” harus menjadi kegiatan rutin bahkan menjadi kebiasaan. Inilah saatnya bagi mereka untuk memperkaya diri dengan membaca aneka ilmu pengetahuan, baik melalui pustaka tercetak, maupun pustakan online.

Mereka pun harus tekun untuk berlatih dalam mengoperasikan perangkat-perangkat TI. Mereka harus berusaha untuk belajar dan mencoba menangani kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, agar kasus serupa dapat dicegah. Pelatihan tidak cukup sampai menghantarkan SDM dapat mengoperasikan perangkat-perangkat yang ada, melainkan sampai SDM memiliki kepekaan dan dapat mengeksplorasi perangkat-perangkat tersebut lebih dalam lagi.

Diharapkan, SDM secara mandiri mendorong dirinya untuk bersiap dengan belajar dan praktik secara mandiri. Namun, tidak sedikit SDM yang ingin belajar secara terstruktur dan terbimbing, agar mereka dapat dengan teratur, tetapi lebih cepat dalam mempelajari ilmu dan keterampilan yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis rintisan tersebut. Untuk mempersiapkan diri melalui jalur formal, maka mereka dapat bergabung ke lembaga kursus, sekolah dan perguruan tinggi.

Meski lembaga-lembaga pendidikan itu bertugas untuk mempersiapkan SDM yang bergabung, tetapi keberhasilan sangat ditentukan oleh seberapa besar motivasi dan usaha yang dilakukan masing-masing orang dalam memahami kasus-kasus yang dibahas para pengampu ilmu dan praktisi.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, 1 Februari 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *