Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM*

Sudah sekitar empat minggu, masyarakat beraktivitas di dan dari rumah. Hal itu sesuai dengan himbauan dan anjuran pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Meski berada di rumah, bukan berarti masyarakat libur panjang. Para pelajar dan mahasiswa tetap harus bersekolah atau kuliah. Sedangkan para orang tua melakukan pekerjaan-pekerjaan kantor dari rumah.

Setiap hari sesuai jadwal, pelajar dan mahasiswa disibukkan dengan sekolah atau kuliah online. Mereka mengenyam pendidikan melalui aneka macam cara belajar yang diterapkan oleh guru dan dosen. Ada proses pembelajaran dari Kementerian Pendidikan melalui siaran TVRI. Sementara itu, beberapa guru dan dosen melakukan tatap muka online melalui aplikasi pertemuan, seperti Zoom, Google Team, Google Meet atau Google Duo. Ada pula guru dan dosen yang menerapkan cara pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan memanfaatkan aplikasi e-Class, email, WA atau sarana yang lain untuk menyajikan materi ajar dan menerima hasil latihan, umpan balik atau kuis dari pelajar dan mahasiswa yang dibimbingnya.

Di Indonesia, proses belajar di rumah itu telah menjadi pengalaman yang baru bagi pelajar dan mahasiswa, guru dan dosen, serta orang tua. Para pelajar dan mahasiswa dituntut untuk belajar secara lebih mandiri dengan memanfatkan aneka sarana belajar, seperti internet yang kaya dengan informasi, e-Article, e-Journal maupun e-Book. Para guru dan dosen dituntut untuk menyiapkan dan mengemas materi ajar yang dapat mendukung proses belajar mandiri. Selain itu, orang tua meski tetap disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan kantor secara online, mereka juga diajak ambil bagian untuk menyemangati, menciptakan suasana belajar di rumah yang kondusif, serta melakukan supervisi guna memastikan anak-anaknya benar-benar mengikuti proses belajar mandiri tersebut.

Masing-masing anggota keluarga memiliki pengalaman belajar dan bekerja secara online dari rumah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan, para orang tua dihadapkan pada peran ganda, yaitu sebagai staf yang harus melakukan pekerjaan-pekerjaannya dari rumah, dan menjadi “guru” yang mendampingi dan mengawasi proses belajar anak-anaknya. Pengalaman itu tidak hanya terbatas pada usaha untuk mengikuti proses belajar dan bekerja dari rumah semata. Namun, juga upaya-upaya bahkan taktik untuk menyesuaikan diri, beradaptasi dengan situasi, kondisi dan sarana-sarana yang tersedia. Mungkin ada pengalaman yang seru, asyik, menarik, maupun membosankan, hingga kemarahan atau pertengkaran yang dapat diolah menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi masyarakat.

Sangat menarik, bila pengalaman-pengalaman itu tidak sekedar diingat dan menjadi kenangan pribadi di masa yang akan datang, tetapi dituliskan untuk menjadi bahan pembelajaran sekaligus kajian bersama. Apalagi, waktu yang tersedia cukup banyak. Dari pada sekedar bercakap melalui media sosial, seperti WA, lebih baik bila waktu yang tersedia digunakan untuk menuliskan pengalaman-pengalaman dalam beraktifitas yang terjadi selama hari-hari di rumah. Tuliskanlah pula cara-cara positif untuk menyikapi rasa bosan, keterbatasan dalam beraktivitas, maupun pola interaksi antar anggota keluarga yang dapat menginspirasi orang lain.

Semua anggota keluarga dapat segera menuangkan pengalamannya itu dalam bentuk tulisan. Dalam menuliskan pengalamannya, anggota keluarga jangan terjebak untuk menjadi penyunting dengan terus menerus memperbaiki setiap kata dan kalimat yang dituliskannya. Hal itu justru akan membuat penulis kehilangan alur tulisan. Sebaiknya, susunlah terlebih dahulu pokok-pokok kisah yang berbeda-beda yang akan dituangkan menjadi tulisan. Jika pokok-pokok kisah telah ditemukan, penulis dapat menyusun urutannya, sehingga menjadi alur kisah pengalaman yang menarik. Berangkat dari alur kisah tersebut, tuangkanlah pengalaman-pengalaman dalam bentuk tulisan seadanya dahulu dengan mengetiknya dengan aplikasi pengolah kata seperti MS. Word atau langsung dituliskan dalam Blog pribadi. Setelah semua pengalaman tertuang, barulah penulis beralih pada fungsi penyunting dengan membaca kembali tulisannya, mengkoreksi pilihan kata dan menambahkan kalimat-kalimat yang dirasa perlu.

Selanjutnya, kirimkan tulisan itu kepada orang yang berpengalaman menjadi penulis, teman-teman atau anggota keluarga yang lain untuk mendapatkan tanggapan, masukan atau koreksi. Lakukan perbaikan tulisan kembali sesuai dengan masukan dan koreksi yang diberikannya dan rapikanlah format tulisan secukupnya. Lalu, hubungi penerbit untuk menerbitkan tulisan-tulisan itu menjadi buku atau e-Book, agar masyarakat memiliki bahan untuk melakukan refleksi, koreksi, kajian dan sarana menggali kenangan dan inspirasi. Jangan biarkan semua pengalaman ini berlalu begitu saja. Oleh karena itu, bersegeralah mengambil waktu untuk menuliskannya.

* Dosen FTI UKDW & Penggagas Indonesia Menulis