Tidak sedikit penulis yang mendedikasikan dirinya untuk membangun negeri ini. Mereka menulis bukan pertam-tama untuk mendapatkan royalti. Mereka menulis untuk berbagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman demi kemajuan masyarakat.

Bagi mereka, royalti hanyalah buah atas dedikasi dan komitmen tiada henti untuk mendidik masyarakat negeri ini. Royalti merupakan bentuk penghargaan pembaca atas gagasan, pandangan, pengetahuan dan keterampilan yang dibagikan oleh penulis. Royalti juga dapat dipahami sebagai sarana untuk mempertahankan eksistensi penulis. Di mana, dengan royalti itu, penulis dapat mengembangkan hidupnya, serta menjaga kejernihan dalam berpendapat dan memperluas cakrawala pandangnya.

Namun, tidaklah salah bila ada orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai suatu profesi untuk memperoleh pendapatan, karena royalti memang hak penulis.

Pada tahun ini, peluang pendapatan lewat penulisan terbuka sangat luas. Dimana, mulai tahun ajaran 2016-2017 ini, 15 menit sebelum pelajaran dimulai, para siswa wajib membaca buku di luar buku paket (Kompas, 22 Desember 2015). Tampak bahwa Kementerian Pendidikan ingin membentuk generasi yang memiliki cakrawala pandang yang luas. Tentu saja pencanangan kebijakan membaca buku itu membutuhkan hadirnya para penulis yang akan melahirkan pelbagai ragam pustaka.

Sementara itu, toko buku online ternama Amazon.com akan kembali menggunakan toko buku konvensional sebagai sarana untuk mendistribusikan ilmu, keterampilan dan pengalaman. Rencana, Amazon akan membuka 400 toko buku di seluruh dunia mulai dari kota asalnya Seattle pada bulan November 2016 nanti (Koran Jakarta, 4 Februari 2016). Sementara itu, Barnes & Nobel Inc telah terlebih dahulu membuka 640 toko buku di seluruh Amerika.

Tentu saja gerakan untuk membuka toko buku konvensional yang dilakukan oleh pelopor toko buku online menyiratkan bahwa kebutuhan terhadap buku tercetak masih sangat besar di luar negeri. Sementara itu, dari dalam negeri, pasar buku tercetak juga dikabarkan tetap stabil (Kompas, 20 November 2015).

Tidak tepat waktunya, bila para penulis berdebat tentang media cetak atau online yang akan eksis di masa yang akan datang. Yang terpenting saat ini, para penulis terus mempercepat lahirnya karya untuk segera didistribusikan baik secara tercetak maupun online demi kemajuan bangsa. Jangan biarkan momentum ini berlalu begitu saja.

Para eksekutif, professional dan pekerja muda, berilah inspirasi bagi perusahaan dan gempurlah tembok keengganan lewat tulisan. Para pensiunan, tuliskanlah pengalaman dan keteladanan Anda, serta bangkitkanlah semangat untuk berprestasi dalam diri generasi penerus. Sementara itu, para pendidik, janganlah puas hanya menjadi guru kelas. Kini saatnya menjadi guru bangsa lewat tulisan.

Anda semua adalah harapan Indonesia untuk tersedianya beragam pustaka. Oleh karena itu, jangan biarkan waktu berlalu tanpa menulis buku.