Saat ini, Indonesia dapat dikatakan telah memasuki era informasi. Hal itu ditandai dengan jumlah pengguna internet yang diperkirakan telah mencapai 100 juta orang, serta puluhan juta situs web, blog dan akun di media sosial.

Sementara itu, pelbagai informasi dalam jumlah yang sangat fantastis telah diunggah atau diunduh secara gratis oleh lembaga, perusahaan maupun perorangan setiap saat. Tampak bahwa produksi dan penyerapan informasi yang terjadi di kalangan pengguna internet sangat tinggi.

Diharapkan tingginya produksi dan penyerapan informasi itu dapat meningkatkan wawasan, cara pandang, ilmu dan keterampilan para pengaksesnya. Namun, harapan itu tidak sepenuhnya dapat terwujud. Ditengarai, hal itu diakibatkan oleh kurangnya kemampuan literasi dari para pengguna internet.

 

Literasi informasi

Secara umum, literasi informasi dapat dipahami sebagai kepekaan terhadap kebutuhan informasi, serta kemampuan untuk menyerap, mengkritisi, memaknai dan mengolah informasi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi dirinya maupun masyarakat luas. Masyarakat yang memiliki kemampuan literasi yang cukup akan mampu menyaring informasi dan membedakan antara informasi yang benar dan yang salah sebelum dirinya bersikap.

Kemampuan ini hendaknya ditumbuhkan sejak dini, khususnya dalam pendidikan formal. Tanpa kemampuan literasi itu, maka seseorang dapat dengan mudah ditipu bahkan menjadi korban kejahatan. Misalnya, anak-anak dengan mudah diculik, karena mereka tidak memiliki kemampuan literasi. Saat pulang sekolah, mereka dijemput oleh orang tidak dikenal. Orang itu membawa informasi bila orang tuanya sedang dibawa ke rumah sakit, sehingga orang itu yang diminta menjemputnya. Jika anak itu tidak memiliki literasi yang cukup, maka anak itu segera terharu dan mengikuti orang tersebut untuk menuju ke rumah sakit. Padahal kenyataanya, ia telah diculik. Dalam logika sederhana saja, tidak mungkin orang tua akan menugasi orang yang tidak dikenal anaknya untuk menjemputnya. Tentunya orang tua dapat meminta bantuan sanak keluarga, tetangga atau guru di sekolah yang dikenali anaknya. Apalagi jika anaknya itu masih sekolah di tingkat taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Sikap kritis atau logika dasar itu perlu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, agar mereka terhindar dari penipuan atau kejahatan.

 

Kembangkan pengetahuan

Sikap kritis akan muncul bila seseorang memiliki informasi pembanding. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan kemampuan literasi, maka seseorang harus banyak membaca dan terbuka terhadap informasi yang mungkin berseberangan. Selanjutnya, ia dapat belajar untuk menganalisa, mengkritisi dan mengevaluasi untuk menentukan informasi mana yang benar-benar sahih.

Misalnya, ada tawaran investasi yang menjanjikan bunga 30% per tahun. Sementara, bunga bank hanya berkisar 5-6% per tahun. Apakah seseorang perlu memindahkan dananya dari bank ke bentuk investasi yang ditawarkan itu. Untuk membuat keputusan itu, maka orang yang memiliki dana di bank itu jangan sekedar mendengarkan tawaran itu semata. Namun, ia perlu mencari informasi dari pihak lain, seperti konsultasi dengan pihak bank atau pakar investasi lain. Apakah logis bila investasi itu menjanjikan bunga 30%, sementara pertumbuhan ekonomi Negara hanya berkisar 4-5% per tahun. Selain itu, bandingkan juga modus tawaran itu dengan kejadian penipuan-penipuan investasi yang marak terjadi. Dengan demikian, ia tidak mudah masuk dalam perangkap investasi “bodong”.

 

Keterampilan membaca

Untuk memperoleh informasi pembanding, maka masyarakat perlu memiliki keterampilan membaca. Jika masyarakat menguasai keterampilan itu, maka ia akan menjadi kaya informasi, kemampuan literasinya akan meningkat dengan pesat dan mampu berpikir secara objektif.

Memang, pada saat berada di sekolah Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar, seseorang telah dibekali keterampilan untuk membaca. Namun, keterampilan itu harus terus ditingkatkan, sehingga ia tidak hanya terbatas membaca teks, tetapi ia dapat membaca konteks dan menemukan makna yang terkandung di dalamnya.

Dari kemampuannya untuk membaca teks dalam konteks, ia dapat menimbang secara objektif makna sebuah informasi. Misalnya, ada informasi tentang “penggusuran” yang dilakukan pemerintah terhadap penduduknya. Sebelum seseorang bersikap, maka temukan dahulu konteksnya. Bila konteksnya penggusuran itu dilakukan untuk kepentingan pembangunan sebuah Mall, tentu tindakan itu tidak tepat. Namun, jika penggusuran itu dilakukan terhadap penduduk yang tinggal di bantaran sungai, tentu saja hal itu merupakan tindakan yang tepat.

 

Penutup

Kesiapan masyarakat untuk memasuki era informasi sangat ditentukan oleh tingkat atau kemampuan literasi informasi. Jika kemampuan literasi itu kurang dikuasai, maka masyarakat seperti terobang-ambing di tengah lautan informasi. Selain itu, masyarakat akan mudah terjebak masuk dalam tipu muslihat.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat Harian Bernas, Rabu, 22 Februari 2017)