Di awal tahun 2017 ini, perhatian rakyat banyak tersedot dalam tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Meski, pilkada serentak itu baru dilangsungkan pada bulan Februari yang akan datang, tetapi saat ini, masing-masing pendukung semakin gencar untuk memperkenalkan calonnya masing-masing lewat internet. Sedangkan, pihak lain berusaha untuk melakukan investigasi atas riwayat dan kompetensi calon-calon kepala daerah yang menjadi kompetitornya.

Sementara itu, silih berganti para pengamat berbagi pandangannya, tentang kriteria hingga karakter kepala daerah yang sesuai untuk menjawab tantangan masa depan. Sedangkan, para simpatisan terus berusaha menyuarakan prestasi, keberhasilan dan program unggulan para calon yang didukungnya. Di sisi lain, mereka juga menggaungkan kelemahan, kegagalan atau program dari para kompetitornya yang dinilai kurang tepat.

Tampak, semua pihak itu telah menemukan media yang dapat menampung dan mengunggah suaranya, agar suara mereka dapat dibaca rakyat pengakses internet. Para pihak pendukung calon berusaha untuk mengungkapkan sisi positif calon, agar calon yang didukungnya mendapatkan suara rakyat di hari pemilihan nanti. Sedangkan, pihak-pihak kompetitor berusaha untuk mengungkap sisi negatif calon, agar rakyat tidak memilihnya.

 

Kemudahan

Sebagai media komunikasi, internet memang dinilai memudahkan rakyat dalam menyalurkan suara, aspirasi, pandangan dan pendapatnya. Setiap saat, rakyat dapat mengungkapkan pandangan dan pendapatnya terhadap persoalan-persoalan bangsa saat ini, khususnya dalam pilkada serentak.

Banyak aplikasi yang tersedia dalam lingkungan internet yang memungkinkan untuk menyalurkan suara rakyat. Secara pribadi, rakyat pengakses dapat mengunggah pandangan dan pendapatnya baik di akun media sosialnya, maupun pada laman-laman situs lainnya.

Sementara itu, aplikasi-aplikasi tersebut juga memungkinkan diperolehnya umpan balik dari rakyat pembacanya. Dengan demikian, rakyat yang mengunggah pandangan dan pendapatnya dapat mengetahui langsung tanggapan dari para pembacanya.

Kemudahan komunikasi dua arah itulah ditengarai telah mendorong rakyat untuk memanfaatkan internet sebagai penyalur suaranya. Oleh karena itu kini, semakin banyak rakyat yang bergabung untuk menyuarakan pandangan dan pendapatnya melalui internet.

 

Etika

Penggunaan internet untuk menyalurkan suara rakyat itu telah ikut menciptakan iklim yang sehat dalam pembangunan demokrasi dewasa ini. Hal itu menunjukkan bahwa rakyat dapat langsung dan bebas mengungkapkan pandangannya tanpa diseleksi atau disensor pihak lain.

Namun, kebebasan itu bukan berarti tanpa batas. Setiap orang memang memiliki hak untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya, tetapi secara etis, ia juga perlu menyadari adanya batasan. Dimana, informasi yang diunggah tidak boleh mengandung kebohongan atau rekayasa yang menyebabkan rakyat pembaca salah paham, salah persepsi, bahkan salah bersikap dan bertindak.

Sebaiknya seluruh rakyat pengakses internet dapat bahu membahu untuk menumbuhkan kepekaan etis tersebut, agar internet dapat digunakan sebaik-baiknya untuk menyalurkan suaranya. Tanpa kesadaran akan etika komunikasi, maka tidak tertutup kemungkinan terjadinya pernyebaran berita-berita bohong (baca: hoax) bahkan berita yang termasuk kategori fitnah.

 

Bangun kepercayaan

Kepercayaan rakyat terhadap informasi yang diunggah di internet hendaknya dijaga. Jika rakyat banyak disuguhi berita-berita bohong, apalagi fitnah, maka tidak tertutup kemungkinan kepercayaan rakyat terhadap internet akan makin memudah dari waktu ke waktu. Akibat lebih buruk, sarana itu akan ditinggalkan orang dan mereka kehilangan sarana untuk menyalurkan suaranya.

Semua pengakses internet hendaknya peduli untuk saling mengingatkan di antara mereka guna menjaga kepercayaan rakyat terhadap internet. Penyedia layanan internet dan pemerintah perlu bekerjasama untuk membangun sistem deteksi dini terhadap berita-berita bohong dan fitnah, sehingga berita-berita itu dapat segera dihentikan penyebarannya. Jika perlu penulisnya diberi pembinaan.

Langkah-langkah itu bukan bertujuan untuk membatasi penggunaan dan ekplorasi internet (baca: memberangus). Justru sebaliknya, langkah-langkah itu diperlukan untuk menjaga kepercayaan rakyat terhadap internet.

 

Penutup

Marwah dari internet sebagai sarana penyalur suara rakyat perlu terus dijaga. Rakyat pengakses internet dapat bertindak secara individu maupun berkelompok untuk menjaga, agar peran internet tidak bergeser ke arah negatif.

Hindari sikap masa bodoh bila ada pengakses yang mulai menggunakan internet untuk hal-hal yang negatif, seperti mengunggah berita bohong atau fitnah. Para pengunggah pesan yang tidak benar itu perlu segera diingatkan tentang pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sarana publik itu. Hendaknya, semua pihak mau mengambil peran untuk memelihara internet sebagai media yang kredibel dalam menyalurkan informasi.

Secara pro aktif, para pengunggah informasi (suara rakyat) hendaknya melakukan konfirmasi tentang kebenaran informasi itu terlebih dahulu, apalagi jika menyangkut pihak-pihak lain. Selain itu, informasi-informasi subjektif, hendaknya dilengkapi fakta dan data, agar pembaca memiliki dasar yang kuat untuk menerima dan memahami informasi-informasi yang diunggah tersebut.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat Harian Bernas, Rabu, 18 Januari 2017)