Selamat datang tahun baru 2017! Suatu lembaran kehidupan baru kembali terhampar untuk mencatat perkembangan dan kemajuan yang akan dicapai dalam satu tahun ke depan. Oleh karena itu, selain berusaha untuk menorehkan sejarah dengan tinta emas, maka setiap orang perlu juga menjaga kebersihan lembaran baru ini.

Di tahun yang baru, masyarakat diharapkan semakin membuka mata terhadap kejadian, fenomena, ilmu dan hasil riset, perkembangan ekonomi, teknologi dan perilaku penggunanya. Dengan demikian, masyarakat dapat menentukan arah, merumuskan tujuan, menetapkan target dan mengelola proses pencapaiannya dengan tepat.

Namun, membuka mata saja tidak cukup, karena kini ditengarai telah tersebar sejumlah data yang palsu dan informasi yang menyesatkan (baca: hoax), misalnya data dan informasi tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, isu pergantian kabinet di awal tahun, kematian bintang film Jackie Chan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, masyarakat perlu membuka hati untuk menimbang dan menilai data dan informasi yang dibacanya.

 

Buka Mata

Dewasa ini, masyarakat semakin dituntut untuk “membuka mata”. Istilah itu bukan berarti masyarakat sekedar melihat tulisan atau gambar yang tersaji baik di media cetak maupun elektronik. Namun, istilah itu mengandung sejumlah makna yang mendalam, antara lain: melihat dengan cermat, membaca dengan teliti, menyerap informasi secara utuh dan memahami konteks secara tepat.

Masyarakat perlu belajar untuk membuka mata, agar mereka tidak “tersesat” di tengah “belantara” data dan informasi yang tumbuh dengan pesat saat ini. Dengan membuka mata, masyarakat akan memperoleh data dan informasi yang benar, lengkap dan relevan. Cakrawala pandang mereka pun menjadi luas dengan mengetahui perkembangan ilmu, keterampilan dan teknologi, informasi pertumbuhan ekonomi, politik, sosial dan budaya di berbagai wilayah negeri ini.

Keluasan pandang itu dapat menghantarkan masyarakat untuk menemukan resolusi atas persoalan hidupnya sehari-hari. Mereka dapat menemukan peluang dan potensi baru yang memperkembangkan perekonomian keluarga, sehingga kualitas hidup mereka pun akan meningkat dari waktu ke waktu.

Selain itu, masyarakat semakin “melek” dan terampil menggunakan perangkat-perangkat teknologi informasi. Mereka pun dapat memaksimalkan pengoperasian perangkat-perangkat itu. Bahkan, mereka dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari perangkat yang ada dalam genggamannya tersebut.

 

Buka Hati

Namun, saat masyarakat membuka hati, mereka juga harus selalu mawas diri. Belajar dari kondisi beberapa bulan jelang akhir tahun 2016 yang lalu, dimana cukup banyak informasi yang menyesatkan telah beredar, khususnya di media sosial. Akibatnya, masyarakat harus menanggung efek dari informasi yang menyesatkan tersebut.

Informasi itu telah memicu tumbuhnya ucapan, sikap atau tindakan yang merugikan diri sendiri, orang lain, lembaga bahkan negara. Masyarakat pun menjadi bingung tentang kebenaran dari informasi yang beredar, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang merasa teraduk-aduk perasaan dan pikirannya. Hampir setiap hari, mereka terjebak untuk membahas informasi yang silang selisih, sehingga waktu dan energi mereka terkuras tanpa hasil yang jelas.

Oleh karena itu, saat membuka mata terhadap informasi, masyarakat perlu membuka hati. Khususnya saat masyarakat membaca informasi yang dirasa bias dan tidak jelas dasarnya. Sebaiknya, jangan berucap, bersikap dan bertindak dahulu sebelum mendapatkan klarifikasi kebenarannya. Masyarakat dapat menimbang setiap data dan informasi yang ada dengan hati nurani.

Apalagi hingga kini, suara hati nurani masih dipercaya sebagai “suara” atau kebijaksanaan Illahi. Oleh karena itu, “membuka hati” berarti seseorang mau memandang dan menimbang setiap data dan informasi dari sudut pandang dan kebijaksanaan Illahi.

Ambillah waktu sejenak untuk bertanya tentang kebenaran data dan informasi sebelum mempercayai dan ikut menyebarkannya. Jika data dan informasi itu berasal dari sanak keluarga atau teman dan sahabat, sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu kepada mereka tentang kebenarannya sebelum ikut mengirimkannya kepada orang lain. Sikap yang bijaksana tersebut akan ikut menjaga kebersihan lembaran kehidupan baru baik bagi diri sendiri maupun bangsa dan negara.

 

Penutup

Belajar dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, maka sangatlah bijak untuk ikut menjaga penggunaan teknologi informasi yang makin banyak digunakan masyarakat. Selain itu, sangatlah tepat untuk mengeksplorasi teknologi informasi itu demi kemajuan bangsa. Apalagi, negara sedang berusaha keras untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Gunakanlah hati nurani untuk menimbang kembali setiap data dan informasi yang diperoleh.Jika data dan informasi itu diragukan kebenarannya dan diperkirakan akan berdampak negatif bagi bangsa dan Negara, maka sebaiknya penyebarluasan data dan informasi itu tidak dilanjutkan.

Bagikanlah data dan informasi yang menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar, agar masyarakat bergairah untuk membangun negeri. Bagikanlah ilmu dan keterampilan, agar masyarakat semakin cerdas dan cekatan dalam mengatasi persoalan yang terjadi. Bukalah mata untuk melihat perkembangan dan bukalah hati untuk menimbang, agar di tahun ini, pembangunan dapat mencapai hasil yang maksimal.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat Harian Bernas, Rabu, 4 Januari 2017)