Pemanfaatan teknologi informasi (TI) tidak hanya monopoli kaum laki-laki. Dewasa ini, tampak bahwa para wanita juga sudah melek TI. Tidak sedikit wanita yang sehari-hari berkutat dengan perangkat-perangkat TI baik untuk kegiatan administratif maupun kegiatan yang bersifat kreatif dan inovatif. Bahkan mereka tampak sangat terampil dalam mengetik pesan, memotret, mengirimkan foto dan film lewat perangkat smartphone-nya.

Akhir-akhir ini, tidak jarang dijumpai pemandangan, dimana sejumlah wanita seakan tidak dapat lepas dari perangkat smartphone-nya. Jari-jarinya yang lentik, tampak menari-nari di atas papan ketik smartphone yang berukuran kecil untuk menyusun pesan, kelakar, meneruskan berita, maupun mengakses aplikasi-aplikasi media sosial (baca: medsos) yang biasa dikunjunginya.

Mereka tampak asyik dalam mengoperasikan TI dan rajin untuk membarui status. Mereka suka menginformasikan keberadaannya, kegiatan yang dilakukan, makanan yang akan disantap, baju yang sedang dicoba, maupun ekspresi wajahnya. Keasyikan itu bertambah kala ada tanggapan dan pujian dari teman maupun grup-nya.

 

Semangat Kartini

Kepiawaian wanita dalam menggunakan TI itu patut disyukuri sekaligus dikritisi. Disyukuri, karena hal itu merupakan buah perjuangan Kartini, agar wanita Indonesia memiliki kesetaraan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, penguasaan wanita atas TI juga perlu dikritisi. Apalagi banyak wanita yang memanfaatkan penguasaan TI itu hanya untuk sekedar pamer potret diri (baca: selfie), ngobrol, atau berbelanja tanpa berbuat sesuatu untuk memajukan masyarakat.

Saatnya wanita dapat mengendalikan eforia berteknologi. Seharusnya, wanita Indonesia bercermin pada sikap hidup dan perjuangan Kartini. Ia tidak menghambur-hamburkan waktu dan dana hanya untuk membangun citra diri. Sebaliknya, Kartini justru memberi perhatian yang besar untuk mewujudkan kaumnya yang tidak mendapatkan kesempatan yang setara dengan kaum laki-laki.

Meski Kartini merupakan anak bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, tetapi Kartini tidak ingin terus berada dalam kenyamanan keluarga ningrat. Kartini justru memanfaatkan pengetahuan yang pernah diperolehnya saat bersekolah di Europese Lagere School untuk menerbangkan gagasan dan pandangannya sampai ke negeri Belanda. Bahkan ensiklopedia bebas Wikipedia mencatat bahwa beberapa kali Kartini mengirimkan tulisannya dan dimuat di majalah wanita Belanda “De Hollandsche Lelie”. Surat-surat dan tulisan Kartini telah menunjukkan bahwa perjuangan dirinya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi Kartini juga menaruh perhatian pada masalah sosial umum, kebebasan, otonomi dan persamaan hukum bagi wanita Indonesia.

Optimalkan TI

Berangkat dari keteladanan Kartini tersebut, maka saatnya bagi para wanita Indonesia yang sudah melek TI untuk memajukan kaumnya dan negeri tercinta. Dulu Kartini perlu mendirikan sekolah demi memberi ilmu dan pengetahuan bagi kaumnya. Namun kini, para wanita yang ingin memajukan kaumnya tidak perlu membangun sekolah lagi, melainkan mendidik mereka melalui situs-situs internet, media sosial maupun aplikasi-aplikasi komunikasi seperti Line atau teleconference. Lewat media online, materi percakapan dan tulisan itu akan berdampak luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga sampai ke manca Negara.

Wanita Indonesia tinggal mempersiapkan konten atau materi percakapan atau tulisan yang membangun kaumnya dan masyarakat pada umumnya, seperti topik tentang kesehatan ibu dan anak, psikologi keluarga, pendidikan usia dini, gizi keluarga dan lain sebagainya. Sebagaimana Kartini yang rajin menulis, maka kini saatnya para wanita menyusun tulisan-tulisan yang dapat menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan, kebudayaan, kesehatan dan berbagai aspek lainnya. Bukan sebaliknya, para wanita hanya sibuk untuk menuangkan keluh kesah atau sakit hatinya. Hal itu justru harus dihindari, karena pesan-pesan itu hanya akan melemahkan semangat.

Oleh karena itu, peringatan hari Kartini tahun ini dapat dijadikan momentum dimulainya gerakan untuk mengoptimalkan penggunaan TI demi memajukan wawasan dan kesejahteraan kaum wanita Indonesia. Singkat kata, para wanita harus berusaha mengoptimalkan TI untuk melanjutkan perjuangan Kartini.

 

Penutup

Penghargaan atas perjuangan Kartini tidak cukup hanya diwujudkan dengan mengangkatan dirinya sebagai pahlawan Nasional. Namun, penghargaan yang lebih penting lagi, yaitu bahwa wanita Indonesia dapat ikut mewarisi dan meneladan sikap hidup, karakter dan pemikiran Kartini.

Hadirnya era internet seharusnya membuka kesempatan bagi para wanita Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi. Di mana, para wanita Indonesia dapat melajutkan “perguruan Kartini” secara online demi mendidik kaum wanita secara meluas di seluruh pelosok Nusantara.

 

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas Rabu 19 April 2017)