Bulan Maret 2017 lalu, Rhenald Kasali seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia telah menerbitkan duku dengan judul “Disruption”. Lewat buku itu, Kasali ingin mengingatkan masyarakat tentang perubahan besar yang sangat cepat sedang terjadi akibat pengaruh teknologi informasi (TI). Menurut Kasali, pasar akan mengalami kontraksi akibat inovasi-inovasi TI. Salah satu contoh telah timbul kontraksi dalam bisnis penyedia jasa transportasi, karena munculnya Gojek atau Grab berbasis aplikasi akhir-akhir ini.

Sebenarnya, setiap dekade tertentu telah terjadi perubahan. Hal itu terjadi, karena manusia menemukan teknologi baru. Seperti tercatat dalam blogpenemu.blogspot.co.id, tahun 1468, Gutenberg telah menciptakan mesin cetak, sehingga lahirlah Koran. Lalu, teknologi distribusi informasi pun memasuki era baru, ketika Marconi menemukan Radio di awal tahun 1900-an (penemudanpencipta.wordpress.com), yang dilanjutkan John Lodie Baird dengan menemukan teknologi televisi tahun 1926 (gjb3112lativ.wordpress.com). Lalu, perubahan besar terjadi lagi akhir tahun 1969, ketika Kleinrock menemukan internet (www.penemu.co). Perubahan demi perubahan pun terus berlangsung pada tahun-tahun selanjutnya.

Setiap kali terjadi perubahan, masyarakat selalu diliputi dengan rasa was-was akan timbulnya persoalan bahkan guncangan (disruption). Rasa was-was itu memang cukup beralasan, apalagi bila guncangan itu akan berpengaruh besar terhadap perekonomian negara bahkan dunia.

 

Hancurkan vs melengkapi

Kehadiran teknologi baru selalu menimbulkan eforia bagi masyarakat untuk menggagumi, menggunakan bahkan mengagungkannya. Eforia itu dapat melahirkan trend dan menggiring masyarakat untuk meninggalkan teknologi lama dan beralih ke teknologi baru. Tidak jarang tindakan itu akan menimbulkan eksodus besar-besaran untuk menggunakan teknologi baru.

Kondisi itu dikhawatirkan akan mengguncang pemerintah selaku pembuat regulasi, maupun perusahaan selaku pengguna teknologi. Inovasi baru teknologi itu telah menempatkan pemerintah dalam posisi sulit. Di mana, perubahan terlanjur terjadi, sedangkan regulasi yang mengatur penggunaannya belum tersedia. Sementara itu, perusahan-perusahaan pengguna yang bertumpu pada teknologi sebelumnya tidak serta merta siap untuk beralih pada teknologi baru. Apalagi bila ketersediaan modal sangat terbatas.

Cukup beralasan bila masyarakat was-was melihat kondisi tersebut. Apalagi bila, perubahan itu menyebabkan kehancuran perusahaan-perusahaan pengguna teknologi lama. Hal itu berarti akan menutup lapangan kerja dan menciptakan pengangguran sebelum tercipta lapangan kerja baru.

Namun, kenyataan yang terjadi, hadirnya teknologi radio tidak serta merta mengakhir penggunaan teknologi cetak. Hadirnya teknologi televisi tidak serta merta menutup teknologi cetak dan radio. Demikian juga, hadirnya internet tidak akan serta merta mengakhiri teknologi cetak, radio dan televisi.

Hampir enam abad sudah berlalu, koran yang merupakan hasil mesin cetak masih terbit, walaupun telah hadir teknologi radio, televisi dan internet. Bahkan jumlah penerbit dan beragam produk cetakan terus hadir dengan pelbagai inovasinya.         Tampaknya, teknologi lama dan teknologi baru itu tidak saling menghancurkan. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan.

 

Mengambil sikap

Kini, masyarakat sedang dihadapkan pada eforia berinternet. Bahkan, internet telah membentuk trend, sehingga banyak perangkat diciptakan berbasis atau sedikitnya mendukung penggunaan internet. Kondisi itu telah disebut Kevin Ashton (1999) sebagai Internet of Things (teknojurnal.com).

Para inovator pun terus menciptakan perangkat-perangkat yang mendukung konsep Internet of Things itu. Bahkan mereka terus memperomosikan, agar semua orang segera bereksodus secara besar-besaran menuju ke teknologi internet dan meninggalkan teknologi sebelumnya. Bahkan tidak jarang, mereka bersikap sinis terhadap orang-orang yang masih mempertahankan teknologi sebelumnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Kini, di tengah eforia teknologi baru, masyarakat harus mengambil sikap atas disrubtion yang terjadi. Sikap itu sangat menentukan nasib dan keberadaan teknologi sebelumnya. Jika masyarakat bersikap untuk segera beralih ke teknologi baru secara total, maka penggunaan teknologi sebelumnya akan segera berakhir pula. Namun, apakah masyarakat sudah siap untuk menerima konsekuensi ekonomis dan sosiologis dari berakhirnya penggunaan teknologi mesin cetak, radio dan televisi.

 

Penutup

Masyarakat perlu menyadari dan bersiap untuk menghadapi perubahan yang akan terus bahkan selalu terjadi. Khususnya perubahan besar akhir-akhir ini terkait dengan hadirnya teknologi internet. Banyak aplikasi-aplikasi yang telah tercipta untuk membangun relasi, mendigitalkan dokumen hingga buku, melahirkan pelbagai bisnis berbasis internet, seperti transportasi online, toko online, dan lain sebagainya.

Masyarakat harus bersikap. Sikap yang ekstrim akan menghendaki secara total semua orang langsung beralih untuk menggunakan internet. Di sisi lain, masyarakat juga dapat mengambil sikap yang lebih ramah, yaitu dengan mengkolaborasi teknologi sebelumnya dengan teknologi baru. Dengan sikap yang kedua tersebut, maka masyarakat memiliki kesempatan untuk beradapatasi. Selain itu, masyarakat tidak serta merta kehilangan pekerjaan yang masih berbasis teknologi sebelumnya.

 

Penulis

Budi Sutedjo Dharma Oetomo,. S.Kom., MM

(Dimuat di harian Bernas, 3 Mei 2017)