Akhir-akhir ini, sekolah dan perguruan tinggi terus berlomba untuk mengeksplorasi internet. Di mana, internet tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana untuk mencari informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semata. Namun, internet telah mulai digunakan sebagai sarana pembelajaran secara komprehensif.

Tidak sedikit sekolah atau perguruan tinggi yang telah membangun aplikasi kelas elektronik (e-Class). Di mana, dalam aplikasi itu terkandung fasilitas untuk menyajikan silabus, bahan ajar, tugas, pengumuman, nilai, serta ruang diskusi elektronik.

Secara bertahap, proses pembelajaran pun mulai beralih dari tatap muka di dalam ruang kelas klasikal menuju ke ruang kelas elektronik. Para siswa pun terus dikondisikan untuk melihat pengumuman, mengunduh materi ajar, mengunggah tugas dan melihat nilai lewat aplikasi tersebut. Sementara itu, para guru dan dosen terus berusaha untuk menyajikan bahan ajar baik dalam bentuk slide presentasi, maupun audio visual.

Kondisi tersebut menunjukkan telah terjadinya disruption dalam dunia pendidikan. Pola pembelajaran berupa tatap muka di kelas mulai dihadapkan pada inovasi-inovasi baru berbasis teknologi informasi (TI). Seluruh warga sekolah dan perguruan tinggi pun dihadapkan pada pilihan berubah atau tertinggal.

 

Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, pembelajaran berarti proses menjadikan seseorang belajar. Dari pengertian itu, tersirat bahwa dalam pembelajaran terjadi interaksi antara seorang yang membantu (guru atau dosen) dan seorang yang lain (siswa) yang dibantu untuk belajar. Dalam interaksi itu, terjadi transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, pembentukan karakter, sikap dan perilaku siswa.

Secara klasikal, proses interaksi itu terjadi di dalam kelas. Di mana, guru atau dosen bertatap muka langsung dengan siswa. Interaksi di dalam kelas itu sejatinya dilakukan secara dinamis dengan aneka kegiatan, seperti ceramah dan tanya jawab, diskusi kelompok, pengamatan bersama, sosio drama, simulasi dan permainan.

Namun beberapa tahun akhir ini, dinamika interaksi dalam kelas lebih banyak berbentuk ceramah dan tanya jawab semata. Bahkan kesempatan tanya jawab itu pun tidak banyak dimanfaatkan para siswa untuk memberikan tanggapan atas ceramah yang diberikan guru atau dosen. Akibatnya, interaksi yang terjadi hanya satu arah.

Oleh karena itu, proses pembelajaran dipahami sebagai proses transfer informasi keilmuan semata. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang hadir di kelas tidak melakukan pengolahan diri. Mereka hanya menantikan materi ajar dari guru atau dosen yang dapat di-copy.                 Kondisi itu ditanggapi para inovator TI dengan menciptakan aplikasi e-Class untuk menyajikan bahan ajar yang dapat diunduh para siswa.

 

Aplikasi belajar online

Pembelajaran berbasis internet pun terus disosialisasikan. Bahkan telah tercipta persepsi bahwa pembelajaran berbasis internet inilah yang paling tepat saat ini. Penggunaan e-Class pun dijadikan semacam standar untuk menilai kualitas pembelajaran.

Memang, pembelajaran berbasis internet dapat menyajikan materi lebih banyak jumlah dan ragamnya dibandingkan proses klasikal di dalam kelas. Internet memungkinkan materi tersaji dalam bentuk teks, audio, visual dan animasi. Siswa pun semakin terbantu untuk memiliki gambaran atau pemahaman yang sama dengan guru atau dosen.

Keberhasilan eksplorasi TI itu telah menimbulkan kekaguman banyak orang, sehingga tidak sedikit orang yang mengagung-agungkan teknologi itu. Kondisi tersebut telah menimbulkan disruption dalam dunia pendidikan. Seakan pertemuan tatapmuka klasikal pun sudah tidak diperlukan, bahkan dianggap ketinggalan jaman.

Interaksi langsung antara guru atau dosen dengan siswa pun menurun drastis. Para siswa pun tampak tidak bersemangat untuk hadir dalam kelas klasikal lagi. Mereka lebih memilih tatapmuka dilakukan lewat forum diskusi secara tekstual atau video conference. Meski interaksi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tetapi interaksi lewat e-Class itu cenderung bersifat formal dengan frekuensi yang sedikit dan durasi yang singkat.

 

Penutup

Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional bulan ini, baiklah bila seluruh insan pendidikan berefleksi untuk menjawab sebuah pertanyaan yang mengusik hati, yaitu: “mampukah pembelajaran berbasis internet yang lebih dimaknai sebagai transfer materi ajar itu dapat membentuk karakter, watak dan kepribadian siswa?”.

Pertanyaan itu bukan untuk menafikan kehadiran aplikasi-aplikasi Internet dalam bidang pendidikan. Namun, pertanyaan itu ingin mengajak setiap pemerhati pendidikan untuk mendefinisikan kembali tentang makna pembelajaran dan menempatkan TI, khususnya internet sesuai dengan fungsinya secara tepat.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, 10 Mei 2017)