Beberapa pekan terakhir ini, kata “komunikasi” telah menjadi bahasan para ahli di pelbagai stasiun televisi. Disebutkan dalam perbincangan-perbincangan itu, bahwa masyarakat perlu berkomunikasi agar kebersamaan yang terajut selama ini dapat dipelihara.

Komunikasi merupakan aspek penting untuk merekatkan antar warga masyarakat. Komunikasi memungkinkan sesama warga saling mengenal dan memahami pribadi, pandangan, perasaan, pemikiran dan kehendaknya. Selain itu, mereka dapat saling bertukar pendapat, ide, gagasan, pengalaman, pengetahuan dan keterampilan.

Akhir-akhir ini, kehadiran teknologi informasi (TI) telah memfasilitasi terjadinya komunikasi antar warga tersebut. Bahkan kini, jarak tidak lagi menjadi kendala untuk berkomunikasi, sehingga komunikasi sosial antar warga dapat dilakukan secara intens di mana saja dan kapan saja.

Namun, komunikasi sosial yang intens saja tidak cukup untuk memupuk kebersamaan warga. Konten atau isi percakapan juga ikut menentukan. Akhir-akhir ini, mulai ditengarai adanya penurunan kualitas komunikasi sosial antar warga. Hal itu ditandai dengan pilihan kata yang tidak hanya menggambarkan perbedaan pandangan, melainkan sudah mengarah pada sikap yang tidak membangun antar pihak yang terlibat dalam komunikasi sosial itu. Bahkan, telah ditemukan sejumlah informasi yang menyesatkan (baca: hoax) yang dapat mengancam kesatuan warga.

 

Fungsi komunikasi

Tuhan telah menciptakan manusia dengan beragam perbedaan, baik jenis kelamin, warna kulit, budaya, maupun berbagai faktor demografi lainnya. Perbedaan itu dimaksudkan, agar manusia saling bergantung dan saling melengkapi satu dengan lainnya, sehingga tercipta kohesi sosial yang erat dan tidak terpisahkan.

Sementara itu, komunikasi menjadi jembatan atas perbedaan-perbedaan tersebut. Ketika warga saling berkomunikasi dan menemukan perbedaan, mereka dapat memahami kebesaran Tuhan dan termotivasi menemukan cara untuk membangun kebersamaan.

 

Literasi sosial

Memang tidak mudah untuk memahami perbedaan-perbedaan antar warga yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan literasi sosial, agar warga dapat menemukan makna atas perbedaan-perbedaan tersebut. Selain itu, literasi sosial juga akan menghantarkan warga menemukan cara-cara yang tepat untuk membangun kesatuan.

Beragam sarana, khususnya media sosial sudah seharusnya digunakan untuk merajut kebersamaan dan membangun budaya tutur yang menunjukkan peradaban kasih. Bukan sebaliknya media sosial digunakan untuk mengumbar rasa kesal atau kecewa yang berujung pada sikap saling mengejek bahkan menimbulkan permusuhan.

Dalam sambutannya untuk hari Komunikasi Sosial Sedunia (28/5), Paus Fransiscus menghimbau agar setiap orang menggunakan semua sarana untuk mengkomunikasikan harapan bukan ketakutan. Paus mengajak semua orang untuk memutuskan lingkaran kecemasan yang membelenggu masyarakat, karena mereka secara konstan telah berfokus pada “berita buruk”. Paus menghimbau, agar semua orang tidak menjadi penyebar informasi sesat. Sebaliknya, Paus mengajak semua orang untuk menjadi penyebar informasi positif demi kebaikan dunia ini.

 

Latihan berkomunikasi

Oleh karena itu, setiap warga perlu terus berlatih untuk berkomunikasi. Apalagi komunikasi dua arah tentu mensyaratkan kedua pihak yang saling berinteraksi saling mengungkapkan dan mendengarkan pesan. Keduanya diharapkan dapat memahami dengan tepat pesan yang diungkap masing-masing pihak.

Untuk dapat memahami setiap pesan yang diungkap, maka warga hendaknya meningkatkan literasi sosial dan mengasah terus keterampilannya dalam berkomunikasi. Warga perlu belajar merangkai kata untuk menyatakan pendapat, ide, gagasan, pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, serta belajar untuk mendengar dan memahami lawan bicaranya. Dengan demikian, di antara warga terjadi pertukaran pesan yang positif dan membangun baik pribadi maupun kehidupannya masing-masing.

Literasi sosial dapat ditingkatkan bila warga memiliki keinginan untuk mengetahui aspek-aspek yang berbeda atau yang belum dimengerti dari orang lain yang berinteraksi dengan dirinya. Selanjutnya, ia berusaha untuk mencari dan membaca informasi-informasi yang dapat memperkaya pemahaman warga tentang aspek-aspek yang berbeda tersebut. Komunikasi yang dilandasi semangat kebersamaan dapat memperjelas maksud atau kehendak seseorang, karena adanya keterbatasan kata atau kurang terampilnya yang bersangkutan dalam mengungkap pesan. Dengan demikian, komunikasi sosial antar warga dapat berlangsung secara positif dan konstruktif.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, Rabu, 24 Mei 2017)