Eforia penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendigitalkan berbagai macam proses terus berlangsung. Tidak hanya terbatas pada proses administrasi perkantoran semata, tetapi digitalisasi telah menghadirkan pola baru dalam melangsungkan pemerintahan, bisnis, pendidikan, penerbitan, layanan jasa konsultasi dan lain sebagainya.

Banyak orang merasa semakin bergengsi untuk melakukan pelbagai macam proses dan transaksi melalui gadget yang dimilikinya. Bahkan mereka yang lahir mulai tahun 1980-an atau sering disebut generasi Y menganggap penggunaan cara-cara klasikal dinilai sudah ketinggalan jaman dan dianggap tidak bermutu lagi. Para pengguna gadget semakin menuntut digitalisasi semua proses, karena digitalisasi dinilai praktis, mempercepat proses dan mempersingkat birokrasi maupun alur proses bisnis.

Di satu sisi, digitalisasi telah menghadirkan model layanan baru yang lebih praktis dan cepat. Namun di sisi lain, digitalisasi telah berdampak pada ketersediaan lapangan kerja. Dahulu, sejumlah proses membutuhkan tenaga dan keterampilan orang. Namun kini, proses-proses itu telah diambil alih perangkat-perangkat TI.

 

Disruption

Sebenarnya, orang menyadari bahwa perubahan pasti terjadi. Pertambahan usia telah membuat perubahan perilaku dan cara berpikir. Selain itu, rambut hitam berubah menjadi beruban, kulit wajah menjadi berkerut dan suara pun tak lagi sejernih seperti di masa kanak-kanak.

Meskipun orang sadar bahwa perubahan demi perubahan pasti terjadi, tetapi perubahan akibat inovasi TI yang berlangsung sangat cepat ini tidak pernah dikira sebelumnya. Perubahan tidak berlangsung secara evolutif, melainkan revolutif. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa terkejut dan tergoncang usahanya oleh kondisi yang disebut disruption oleh para ahli ini.

Perubahan demi perubahan terus terjadi setiap hari. Para inovator TI terus berlomba untuk mendigitalkan semua proses, layanan dan produk-produk yang semula dalam bentuk fisik. Mereka telah menciptakan pasar secara digital, layanan-layanan informasi, administrasi, transaksi dan konsultasi berbasis TI, serta produk-produk yang dapat dinikmati secara elektronik.

 

Jungkir balik

Situasi itu telah “menjungkirbalikkan” usaha-usaha konvensional. Terciptanya pasar secara digital telah mempertemukan pedagang dengan konsumen di layar gadget. Di mana, konsumen tidak perlu lagi keluar rumah untuk berbelanja. Mereka dapat memilih barang lewat katalog elektronik, memesan, serta membayar lewat sarana transaksi online tanpa harus berpindah tempat.

Akibatnya, animo orang yang datang ke pasar tradisional, swalayan atau mall berkurang. Tidak sedikit toko yang terancam tutup, karena capaian target penjualannya tidak mampu lagi menutup biaya operasional dan sewa tempat. Orang-orang mulai menikmati sensasi memilih dan memesan makanan lewat gadget-nya. Mereka dapat menemukan aneka makanan dari sejumlah rumah makan secara online yang dilengkapi dengan fasilitas layan antar. Akibatnya, sejumlah warung makan dekat rumah, kantin kantor atau sekolah mengalami penurunan jumlah penjualannya.

Produk-produk buku telah berubah menjadi e-Book, sehingga tidak lagi diperlukan proses pencetakan, penjilidan, pengepakan dan penjualan di toko buku. Semula, industri buku cetak tersebut tergolong industri padat karya. Kini, industri penerbitan dan percetakan buku terancam “gulung tikar”.

 

Susutnya lapangan kerja

Bagi pengelola usaha yang dapat segera beradaptasi dengan pelbagai sarana TI akan bertahan. Sementara, bisnis yang tidak memiliki kecukupan modal untuk beralih ke model online mulai melakukan tindakan efisiensi, antara lain: memperkecil usaha, maupun mengurangi jumlah pekerja. Bahkan, tidak sedikit pengelola usaha yang “gulung tikar”, karena mereka tidak menemukan “jalan keluar” untuk mengatasi penurunan omzet secara drastis.

Bisnis yang mampu bertransformasi menuju sistem digital pun mengurangi jumlah pekerja, karena perangkat-perangkat yang digunakan telah dapat menggantikannya. Kini, proses administrasi dan transaksi telah mulai digantikan perangkat-perangkat TI, sehingga layanan dapat dilakukan secara online. Akibatnya, lapangan kerja pun menyusut.

 

Penutup

Eforia digitalisasi perlu dikendalikan, jika tidak ingin pengangguran meningkat dengan drastis. Apalagi di Indonesia, jumlah tenaga kerja sangat berlimpah. Mereka membutuhkan lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan dan memperkembangkan hidup.

Proses digitalisasi tanpa batas akan mempercepat penyusutan lapangan kerja konvensional. Sementara, usaha online masih proses bertumbuh, sehingga usaha-usaha itu masih lebih banyak menyerap tenaga kerja ahli di bidang TI. Oleh karena itu, sebagai tanggung jawab sosial, para inovator TI juga harus ikut serta memikirkan nasib tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat di Harian Bernas, Rabu, 31 Mei 2017)