Dewasa ini, para pelaku teknologi informasi (TI) sedang dilingkupi eforia bisnis rintisan (startup business). Keberhasilan Alibaba di negeri tirai bambu, Traveloka, Blibli dan BukaLapak di tanah air telah menginspirasi para entrepreneur muda untuk ikut terjun dalam bisnis rintisan berbasis TI itu.

Dengan bermodal semangat dan keberanian untuk mengembangkan usaha berbasis TI, mereka telah mengembangkan beragam bisnis di lingkungan internet. Upaya mereka pun tidak setengah-setengah. Beberapa bisnis rintisan hasil kreativitas dan inovasi mereka telah berhasil meraih penghargaan. Agung dalam sinyal.co.id (2016) mencatat beberapa bisnis rintisan Indonesia yang berprestasi, antara lain bukuQ.com yang menjuarai Indosat Wireless Innovation Contest 2009, Sedapur.com yang mendapatkan penghargaan Nokia Enterpreneurship dan INAICTA2011 kategori e-Business Service, serta Sixreps.com yang sempat mendapatkan tawaran investasi sampai 1 juta dollar.

Namun, pengembang bisnis rintisan Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit. Sejumlah bisnis rintisan baik yang telah berhasil meraih penghargaan maupun yang sedang berjuang memantapkan eksistensinya telah menemui kegagalan. Agung mencatat bukuQ.com, sedapur.com dan sixreps.com, shopius dan tasterous harus mengakhiri pengoperasiannya. Sementara itu, Moh Prima Fausi dalam techno.okezone.com telah menambah deretan bisnis rintisan yang harus berakhir di tahun 2016, seperti Yeboss, HeloDiana dan Valadoo, sedangkan Aditya Hadi Pratama dalam id.techinasia.com mengungkapkan bisnis rintisan pakaian dalam lolalola telah berakhir di awal 2017 dan disusul Indosat Ooredoo di awal Juni 2017 ini. Selain itu, Faisal Bosnia Ahmad dalam id.techinasia.com menambah daftar bisnis rintisan Indonesia yang gulung tikar di tahun 2016, yaitu rdio, paraplou, sidecar, novelsys, zen99, abraresto, alikolo dan qbotix.

 

Penyebab kegagalan

Seringkali orang hanya terpana dengan beberapa bisnis rintisan yang mencapai sukses besar. Selain itu, tidak sedikit dari antara mereka yang beranggapan bahwa bisnis rintisan hanya terkait dengan teknologi web dan hal-hal teknis pengoperasian semata. Padahal, penguasaan konsep-konsep manajemen dan model-model bisnis sangat menentukan keberhasilannya.

Wawasan akan hal itu kurang, karena kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam bisnis rintisan, seakan-akan lepas dari liputan media. Dengan demikian, kegagalan itu tidak pernah dibahas dan dijadikan bahan pembelajaran bagi calon pengembang. Akhirnya, kegagalan serupa terus berulang terjadi.

Agung, Prima Fausi, Aditya dan Faisal berhasil merekam evaluasi para pendiri atau pengelola bisnis rintisan yang gagal tersebut. Secara umum, kegagalan bisnis rintisan itu disebabkan oleh ketidaksiapan pasar dalam menerima pola bisnis yang ditawarkan. Hal itu tercermin dari jumlah pengguna atau anggota situs itu yang masih sangat jauh dari harapan. Selain itu, mereka tidak memiliki sumber daya manusia yang benar-benar menguasai konsep dan praktik bisnis yang dikembangkan, yang mampu mengambil keputusan-keputusan penting dengan cepat, serta memberikan layanan prima kepada para konsumen.

Di sisi lain, mereka mengalami kesulitan untuk menggaet para investor. Kalau pun mereka berhasil menghimpun dana, tidak sedikit di antara mereka yang gagal mengelolanya. Akibatnya, mereka kehabisan dana dan waktu, sedangkan bisnis rintisan tidak kunjung berkembang secara signifikan.

 

Belajar dari kegagalan

Kegagalan demi kegagalan bisnis rintisan Indonesia janganlah menyurutkan antusias para calon pengembang. Kegagalan itu tidak perlu ditakuti. Sebaliknya, kegagalan-kegagalan itu perlu segera dibahas untuk ditemukan solusinya.

Belajar dari para pendiri atau pengelola situs yang gagal itu, berarti para calon pengembang jangan hanya fokus pada penyediaan teknologi dan perangkat-perangkatnya semata. Namun, sebaiknya calon pengembang perlu membekali diri dengan mendalami konsep-konsep manajemen dan model-model bisnis. Pengalaman atau keberanian saja tidak cukup untuk mengembangkan bisnis rintisan, karena baik konsumen dan pesaing sama-sama tidak terlihat, sedangkan jangkauan pasarnya menjadi sangat luas. Dengan demikian, calon pengembangan harus memiliki data yang sahih untuk mengenali mereka dari segi karakter, perilaku dan faktor demografinya.

Mereka juga harus benar-benar mengetahui model bisnis yang akan dikembangkan. Bisnis properti, buku, masakan, pakaian, sepatu, konsultan dan musik memiliki karakter yang berbeda satu dengan lainnya. Selain itu, calon pengembang juga perlu mengetahui secara rinci reputasi pemasok bahan baku, maupun barang jadi dan jasa yang akan ditawarkan. Mereka harus dapat bekerja sama dengan para pemasok dan memastikan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk memenuhi permintaan.

Mereka perlu mempelajari bisnis rintisan yang dikembangkan pesaing, agar mereka dapat menyusun strategi yang lebih unggul. Kreativitas dan inovasi harus terus diasah, agar mereka dapat menawarkan barang dan jasa yang unik dan menarik para konsumen.

 

Penutup

Bisnis rintisan yang ada saat ini merupakan bentuk bisnis di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sangat tepat bila generasi muda mulai menaruh perhatian, bahkan ikut serta mengembangkannya. Jika para calon pengembang ingin berhasil, maka sebaiknya mereka tidak hanya fokus terhadap teknologi Web dan piranti-piranti pembentuknya semata. Namun, mereka juga perlu mendalami konsep dan teori manajemen dan bisnis untuk menyusun prosedur dan proses bisnis yang unggul. Demikian sebaliknya, mereka yang telah menguasai teori manajemen dan model bisnis perlu segera mengasah keterampilan berteknologi, karena tanpa teknologi, maka proses bisnis akan berlangsung sangat lambat.

 

Penulis:

Budii Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Terbit di Harian Bernas, Rabu 14 Juni 2017)