Hari yang Fitri kian menjelang. Di tengah melanjutkan ibadah puasa, sebagian masyarakat telah bersiap pulang menuju kampung halaman untuk merajut silaturahmi dengan keluarga dan handai taulan. Ada diantara mereka yang telah memegang tiket kereta, bus, travel, kapal dan pesawat. Namun, tidak sedikit pula yang mempersiapkan mudik dengan menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor.

Sementara itu, pemerintah terus bekerja keras menyelesaikan perbaikan dan mengejar penyelesaian jalan-jalan yang dibangun, agar perjalanan para pemudik dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Menurut data Kompas (13/6), sejumlah ruas jalan tol telah dinyatakan operasional, seperti: jalan tol dari Jakarta hingga Tegal. Namun, ruas jalan tol dari Tegal hingga Alas Roban Gringsing di daerah Kendal masih bersifat fungsional dan beberapa ruas berstatus kondisional (buka-tutup). Meski ruas jalan itu sudah dapat dilalui kendaraan, tetapi jalan tol itu masih dipenuhi debu, ada bagian badan jalan yang masih bergelombang dan ada penyempitan di jembatan, serta kurangnya fasilitas tempat istirahat. Selain itu, antara Gringsing hingga sebelum memasuki kota Semarang, jalan tol masih pada tahap konstruksi. Kondisi ini harus benar-benar dipahami pengendara mobil atau motor yang akan mudik dari arah Jakarta atau Jawa Barat ke daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, demikian sebaliknya.

Pengendara perlu memperhitungkan padatnya jalan di ruas-ruas tol yang belum benar-benar berstatus operasional. Selain berhati-hati dan mempersiapkan bekal yang cukup untuk mengantisipasi kemacetan, sebaiknya pengendara juga mempelajari peta jalan, sehingga sewaktu-waktu siap menempuh jalan alternatif.

 

Peta jalan

Berkunjunglah ke toko buku untuk mendapatkan peta jalan. Sementara itu, bagi pengendara yang memiliki smartphone dapat mengaktifkan fasilitas peta (map) untuk mempelajari medan jalan yang akan dilalui. Bersiaplah sewaktu-waktu untuk memanfaatkan jalan alternatif guna menghindari kemacetan yang parah di jalan utama.

Pengendara mobil dapat mengaktifkan siaran radio dan berita-berita di internet untuk memantau kondisi lalu lintas dan kepadatan jalan. Sebaiknya, pengemudi didampingi anggota keluarga atau teman yang dapat membantu memantau berita-berita itu selama perjalanan. Jika mulai ada tanda-tanda penumpukan kendaraan, sebaiknya pengendara mulai mencari petunjuk jalan alternatif. Pengendara dapat mulai bertanya dengan penduduk setempat guna mendapatkan informasi tentang jalan-jalan alternatif. Meski sedikit memutar desa atau dusun tertentu, bergerak ke utara atau selatan, tetapi pengendara dapat melewati kemacetan yang terjadi.

Selain itu, alangkah baiknya, bila pengendara mulai mengaktifkan fasilitas GPS (the Global Positioning System) pada smartphone, yaitu aplikasi teknologi informasi (TI) yang berfungsi sebagai penunjuk jalan. Oleh karena itu, sebelum berkendara menuju kampung halaman, bagi pemilik smartphone perlu memastikan bahwa dirinya dapat mengoperasikan aplikasi GPS tersebut. Dengan demikian, sewaktu-waktu pengendara dapat mengaktifkannya guna menemukan jalan keluar dari tumpukan kendaraan atau menemukan rumah makan untuk melepas lelah.

 

Optimalkan TI

Pemudik sedapat mungkin mengoptimalkan TI, antara lain dengan mengikuti berita-berita yang dimuat baik di Koran nasional atau daerah, radio dan internet yang dapat diakses lewat komputer maupun smartphone. Selain itu, jangan mengandalkan persepsi pribadi semata tentang ruas-ruas jalan yang akan dilalui. Dapatkanlah penjelasan lebih rinci dari kepolisian,kerabat, serta teman dan sahabat sejak sekarang. Pengemudi dapat melakukan kontak dengan mereka lewat perangkat-perangkat komputer di kantor, fasilitas WA atau SMS. Dengan demikian, penjelasan mereka akan tercatat untuk sementara waktu dan dapat dibaca berulang-ulang petunjuk yang diberikan.

Pastikan baterai smartphone memadahi untuk perjalanan jauh. Lakukan pengecekan dan penambahan daya segera bila dinilai baterai sudah mulai lemah. Selain itu, pastikan pula mode layanan untuk akses internet dan ketersediaan pulsa atau kuota, agar smartphone dapat mengoperasikan aplikasi-aplikasi peta atau GPS dengan lancar.

Catatlah nomor-nomor darurat yang disediakan pemerintah maupun kepolisian di telepon seluler atau smartphone, agar sewaktu-waktu pengemudi dapat menghubungi untuk memperoleh petunjuk. Sangat disarankan, pengemudi membuat grup bersama rekan-rekan atau kerabat yang melakukan perjalanan dengan arah yang sama, agar semua anggota grup dapat saling berbagi informasi atau memberi pertolongan.

 

Penutup

Pemerintah sudah berupaya untuk memfasilitasi masyarakat dalam merayakan hari yang Fitri, baik dengan menyiapkan sarana prasarana, maupun memberi hari libur yang cukup. Kini berpulang pada masyarakat yang akan melakukan perjalanan. Rencanakanlah perjalanan dengan jadwal yang longgar, agar pengemudi tidak terdorong untuk memacu kendaraan melewati batas yang diperkenankan. Jika tidak memungkinkan bersilaturahmi secara langsung dengan beberapa orang sanak kerabat dan handai taulan sebaiknya jangan dipaksakan. Tempuhlah silaturahmi melalui perangkat-perangkat TI. Apalagi, kini sudah banyak tersedia aplikasi-aplikasi yang memungkinkan masyarakat melalukan hubungan telepon dengan menampilkan wajah, karena ketersediaan kamera. Dengan demikian, silahturahmi tetap dapat berlangsung tanpa harus memacu kendaraan di tengah jalan yang dapat membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat di Harian Bernas, Rabu, 21 Juni 2017)