Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan jajarannya terus berusaha mendorong para akademisi (dosen dan guru) untuk menciptakan informasi keilmuan. Langkah pemerintah itu dinilai tepat mengingat mereka memiliki peran strategis dalam pengembangan ilmu dan teknologi.

Sejumlah akademisi telah menanggapi dorongan pemerintah baik yang diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan peraturan, maupun insentif. Hal itu tampak dari peningkatan jumlah publikasi baik berupa buku, maupun artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional maupun jurnal internasional bereputasi. Namun, jumlah akademisi yang produktif menciptakan informasi keilmuan sebagaimana tergambar dalam Google Scholar, maupun indeks Sinta Ristekdikti masih jauh dari harapan pemerintah.

 

Visi mencipta

Belum tercapainya harapan pemerintah itu dapat disebabkan oleh banyak faktor. Kemungkinan pertama, para akademisi belum memiliki visi yang kuat, sehingga kegiatan mencipta informasi keilmuan itu belum menjadi prioritas. Apalagi bila informasi itu harus ditunjang dengan penelitian. Tampaknya,mereka masih lebih mengutamakan kegiatan mengajar, sehingga tidak sedikit dari antara mereka yang justru berusaha mendapatkan kelebihan jam mengajar dari pada meluangkan waktu untuk melakukan penelitian dan menulis buku.

Kedua, umumnya mereka menganggap kegiatan mencipta (menulis) informasi itu di dasarkan pada bakat sesorang di bidang Bahasa. Bagi mereka yang merasa tidak berbakat, maka kegiatan menulis menjadi momok yang harus dihindari. Akibatnya, kegiatan menulis dianggap sulit dilakukan seseorang yang tidak memiliki bakat sastrawan.

Ketiga, umumnya mereka tidak memiliki kecukupan data dan informasi, sehingga mereka tidak dapat menuliskannya sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. Hal itu terjadi, diduga karena mereka kurang banyak membaca dan melakukan penelitian. Walaupun kini telah tersedia aneka perangkat teknologi informasi (TI), tetapi tidak sedikit dari antara mereka yang justru mengalami pendangkalan (Tapscott, 2013), karena mereka kurang membaca. Perangkat-perangkat TI itu kurang dimaksimalkan untuk memperoleh bacaan keilmuan, melainkan lebih banyak perangkat-perangkat itu digunakan untuk sarana bergaul dan bercakap semata.

 

Informasi keilmuan

Keempat, ditengarai bahwa para akademisi lebih banyak tenggelam dalam kegiatan mengajar, mengkoreksi tugas-tugas yang dikumpulkan siswa dan memegang jabatan struktural dari pada meneliti. Mereka kurang memiliki waktu untuk mengamati kasus-kasus dan fenomena-fenomena yang terjadi.

Akibatnya, mereka tidak memiliki “cerita-cerita” atau temuan-temuan yang menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman yang baru. Mereka lebih banyak berkutat pada pengetahuan umum, sementara pengalaman dan kekayaan metode dalam penanganan kasus-kasus yang spesifik sangat kurang.

Padahal, melalui pendalaman terhadap kasus-kasus yang terjadi, maka para akademisi akan memiliki informasi baru terkait dengan keilmuan yang ditekuninya. Mereka pun akan memperoleh bahan tulisan yang sangat berharga dan dinantikan masyarakat luas.

 

Papan peringkat

Selanjutnya, masyarakat akan menjadikan informasi-informasi itu sebagai rujukan dalam menjawab dinamika dan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak informasi dari seorang akademisi yang dirujuk masyarakat, maka ia akan menjadi “barometer” dalam bidang ilmu tersebut. Itulah karir yang sebenarnya dari para akademisi.

Kini, pemerintah telah memanfaatkan aplikasi Google Scholar dan Sinta untuk memeringkat para akademisi baik di dalam institusinya maupun dalam skala nasional. Bagi akademisi yang produktif mencipta informasi keilmuan dan dirujuk masyarakat akan mendapatkan peringkat yang tinggi. Peringkat itu menunjukkan bahwa dirinya adalah pusat rujukan dalam bidang ilmu yang ditekuninya.

 

Tridharma

Belum seimbangnya jumlah akademisi berbanding dengan siswa yang dilayaninya telah membuat para akademisi belum dapat memenuhi kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Umumnya, waktu dan tenaga mereka habis terkuras untuk mengajar.

Kondisi itu menjadi “pekerjaan rumah” bersama yang harus segera diselesaikan. Permakluman terus menerus terhadap keadaan itu tidak akan mengubah kondisi. Kini saatnya para akademisi untuk menjawab tantangan tersebut dengan menciptakan metode-metode baru dalam mengajar, sehingga proses belajar tetap efektif, sedangkan tenaga untuk meneliti dan menulis tidak terkuras habis.

Para akademisi harus melakukan perubahan dalam menajemen sumber daya pribadi (waktu, tenaga dan dana), sehingga mereka dapat mencipta informasi keilmuan secara efisien. Mereka pun harus belajar lagi untuk memanfaatkan perangkat-perangkat TI secara efektif. Dengan demikian, perangkat-perangkat itu dapat digunakan untu menunjang dirinya dalam memperoleh data yang akan diolah menjadi informasi. Bukan sebaliknya, justru sumber daya pribadi mereka terkuras habis oleh perangkat-perangkat tersebut.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, 21 Februari 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *