Polemik tentang hoax terus bergulir dalam beberapa hari terakhir ini. Berita hoax hangat dibahas menyusul cuitan dari Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (disingkat: SBY), yaitu “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*,”. Cuitan itu ditulis di akun @SBYudhoyono (20/1).

Merebaknya berita hoax di internet akhir-akhir ini memang sangat memprihatinkan. Sejumlah kalangan pemerintahan, professional, akademisi, politisi dan pebisnis menyayangkan munculnya berita-berita itu, karena hoax akan menggerus kepercayaan masyarakat. Namun, berita hoax itu pun tetap terus bermunculan di media sosial.

Ditengarai, berita hoax itu muncul karena beberapa sebab, dari mulai tindakan iseng, hingga diduga bermotif sengaja merugikan sejumlah pihak. Berita hoax itu pun mudah tersebar, karena berita itu seakan memiliki sensasi tersendiri yang menarik para pengakses internet, baik untuk membaca maupun ikut menyebarkannya.

 

Hoax

Hoax merupakan informasi yang menyesatkan yang didasarkan pada data palsu. Hoax berdampak luas, karena hoax tersebut tersebar dengan cepat lewat teknologi internet.

Hoax dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Hoax yang hanya sekedar menciptakan sensasi dan hoax yang bertujuan untuk mengoyahkan kepercayaan masyarakat.

Hoax yang sekedar sensasi akan tenggelam dengan sendirinya bila sudah terkonfirmasi, seperti hoax tentang kematian bintang film laga Hongkong Jackie Chan pada akhir 2016 lalu. Hoax itu dengan sendirinya tenggelam, ketika Jackie Chan tampak tampil dengan segar bugar. Diduga, hoax tentang Jackie Chan itu dilakukan oleh orang yang iseng yang ingin menciptakan sensasi semata.

Namun, ada pula hoax yang sengaja dibuat untuk tujuan menggerus kepercayaan masyarakat. Sebagai contoh, hoax tentang masuknya tenaga kerja asing telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Apalagi bila hoax itu terlanjur didukung oleh orang-orang yang ditokohkan oleh masyarakat. Sudah hampir satu bulan, hoax tersebut belum tenggelam, walaupun pemerintah telah memberikan konfirmasi dan memaparkan data-data yang dimilikinya. Hoax seperti ini bisa menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Pertumbuhan hoax yang pesat akhir-akhir ini, diduga disebabkan masyarakat suka membaca berita negatif, apalagi yang sensasional. Dulu, kalangan pers juga sempat mengembangkan berita-berita sensasional sebelum dihimbau Presiden Jokowi, agar pers Nasional lebih mengembangkan berita-berita yang positif dan membangun. Sejak itu, Pers Nasional telah menyuguhkan berita-berita yang positif, walaupun tidak berkurang sikap kritisnya kepada pemerintah. Namun, sikap kritis itu dibangun berbasis data dan informasi yang benar.

Persoalannya, hoax dibuat oleh perorangan,sehingga hal itu lebih sulit untuk diatasi. Himbauan pejabat struktural pemerintahan tidak cukup berpengaruh pada penulis hoax, apalagi bila mereka memang beroposisi terhadap pemerintah.

 

Pertaruhan moral

Informasi dan percakapan masyarakat di media sosial merupakan cermin moral bangsa. Oleh karena itu, persebaran hoax telah mempertaruhkan moral bangsa, karena banyaknya hoax dapat menumbuhkan persepsi bahwa kondisi moral bangsa sedang mengalami degradasi.

Banyaknya hoax tidak hanya menggerus kepercayaan masyarakat di dalam negeri, melainkan juga masyarakat internasional yang akan berdampak buruk terhadap politik dan perekonomian Negara. Bila kepercayaan masyarakat internasional merosot, maka Negara lain dan perusahaan-perusahaan luar negeri bisa mengurangi volume perdagangan dan investasinya.

Dampak buruk itu tentu akan berimbas terhadap masyarakat luas. Jika kondisi politik tidak stabil dan perekonomian Negara menurun, maka bisnis dan pekerjaan masyarakat juga sulit berkembang. Selain itu, pembuat hoax dan masyarkat yang mempercayainya mewariskan pola berpikir yang percaya pada berita dan data palsu kepada generasi berikutnya. Akibatnya, dampak buruk dari hoax itu akan berkepanjangan.

 

Penutup

Pengaruh hoax yang berkepanjangan tersebut perlu segera disadari bersama. Masyarakat harus bahu membahu mengatasi hoax. Jangan sebaliknya, masyarakat justru membiarkan atau bahkan mempercayainya. Hoax bukanlah sensasi sesaat saja, karena hoax dapat menimbulkan dampak yang berkepanjangan bagi anak bangsa.

Mengatasi hoax bukan berarti mengurangi sikap kritis masyarakat kepada pemerintah atau pemimpin. Namun, hendaknya sikap kritis itu diungkapkan berdasarkan data dan informasi yang benar.

Penggunaan hoax akan membentuk dan mewariskan sikap moral yang negatif kepada generasi yang akan datang. Jika sikap moral mereka terlanjur terbentuk berdasarkan data dan informasi palsu, maka dampak negatif yang dialami bangsa akan berkempanjangan.

 

Penulis

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(dimuat Harian Bernas, Rabu, 25 Januari 2017)