Sedikitnya, terdapat tiga hari peringatan penting di bulan Mei ini, yaitu hari Pendidikan Nasional (2/5), hari Kebangkitan Nasional (20/5) dan hari Komunikasi Sedunia (28/5). Banyak pesan-pesan positif yang membakar semangat untuk membangun negeri yang digaungkan para tokoh selama bulan ini.

Tidak sedikit fakta yang menunjukkan peran Teknologi Informasi (TI) untuk memajukan sistem pendidikan nasional, mengembangkan komunikasi sosial dan mempersatukan bangsa yang diungkap. Diakui, bahwa TI telah memfasilitasi lahirnya inovasi-inovasi baru dalam segala bidang kehidupan.

Namun, di tengah eforia perayaan sepanjang bulan ini, terdapat catatan-catatan kelam dari kehadiran TI di tengah-tengah masyarakat. Konten-konten informasi yang berbau pornografi, pornoaksi dan kekerasan muncul berdamping dengan konten-konten pendidikan. Sering dijumpai, kalimat-kalimat percakapan dalam media sosial yang tidak mencerminkan budaya bangsa. Kesatuan bangsa dan komunikasi sosial antar warga pun terancam bahkan telah terkoyak dengan munculnya komentar-komentar yang saling mengejek dan menjelekkan, serta informasi palsu (hoax). Tidak sedikit tindak kejahatan berbasis TI yang terjadi. Terakhir, tersebarnya virus Ransomware Wanna Cry (14/5) yang mematikan kinerja komputer. Virus itu telah menyebabkan ratusan ribu komputer tidak dapat beroperasi di pelbagai penjuru dunia. Tercatat beberapa sistem TI rumah sakit yang mati diduga terkena serangan virus tersebut. Apakah TI akan berubah menjadi mimpi buruk bagi bangsa Indonesia?

 

Timbang baik buruk

Ketika para ahli mengembangkan TI yang dimulai dari perangkat komputer, mereka tidak memiliki niat sedikitpun untuk menciptakan mimpi buruk bagi bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia. Mereka hanya diliputi semangat untuk menciptakan inovasi yang dapat memajukan perikehidupan masyarakat.

Ketika semua fakta dapat dicatat dan diolah dengan cepat dan cermat, maka masyarakat akan memiliki informasi yang akurat untuk membuat keputusan-keputusan penting. Tidak hanya itu, TI telah dieksplorasi para ahli untuk menjadi tempat penyimpanan data yang aman dan efisien, serta menjadi sarana komunikasi dan distribusi informasi yang efektif.

Namun, tidak semua pengguna memanfaatkan perangkat-perangkat itu untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Bahkan ada diantara mereka yang justru menggunakan perangkat-perangkat itu untuk menimbulkan dampak-dampak negatif, merusak peradaban, menciptakan teror dan melakukan kejahatan.

Banyak data yang hilang. Tidak sedikit pula perusahaan atau perorangan yang harus menanggung kerugian. Banyak jiwa yang terancam, banyak korban di kalangan generasi muda yang psikis dan mentalnya terguncang oleh tindakan-tindakan negatif itu.

 

Terus berjuang

Kenyataan pahit yang harus dialami para pengguna itu janganlah menyurutkan minat atau menimbulkan ketakutan untuk terus mengeksplorasi TI demi kesejahteraan masyarakat luas. Paus Fransiskus dalam sambutan hari Komunikasi Sedunia mengajak masyarakat untuk memutus lingkaran kecemasan dan spiral ketakutan yang timbul, karena masyarakat secara konstan telah berfokus pada berita buruk. Hendaknya masyarakat tidak ikut menjadi penyebar informasi sesat yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia dan optimisme naïf yang membutakan mata terhadap skandal kejahatan.

Oleh karena itu, Paus mengajak setiap orang untuk terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif, menampik prasangka (buruk) terhadap orang lain dan menggalakkan budaya perjumpaan. Hendaknya, setiap orang mengambil bagian, mencari cara komunikasi yang terbuka dan kreatif, yang tidak pernah mengagungkan kejahatan, tetapi sebaliknya komunikasi yang berorientasi pada solusi dan inspirasi terhadap pendekatan positif dan bertanggungjawab kepada para penerimanya.

Sudah seharusnya, TI digunakan dan dieksplorasi untuk membangun peradaban dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jangan sebaliknya, TI digunakan untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan.

Oleh karena itu, masyarakat jangan pernah berhenti berjuang untuk berinovasi demi pengembangan TI dan mewujudkan harapan menjadi kenyataan. Selain itu, jangan pernah bosan untuk menanamkan visi dalam berteknologi secara positif, serta membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikan TI secara benar dan bertanggung jawab.

Bangunlah komunitas pengguna TI, agar mereka dapat saling mengembangkan wawasan dan keterampilan. Selain itu, komunitas berperan untuk mengontrol pemanfaatan TI secara benar dan positif.

 

Penutup

TI bukanlah mimpi buruk bangsa, bila setiap insan mau bertindak positif dalam menggunakan perangkat-perangkat TI. Kemampuan-kemampuan istimewa para pengguna TI dalam menciptakan aplikasi dan mengembangkan inovasi-inovasi hendaknya diarahkan untuk menciptakan kemajuan. Tindakan untuk saling mengingatkan setiap pengguna TI sangat penting, agar mereka terdorong untuk menggunakan perangkat-perangkat itu secara etis dan bertanggungjawab.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, 17 Mei 2017)