Perayaan Idul Fitri dan libur Lebaran baru saja berakhir. Sekitar 10 hari masyarakat Indonesia baik umat Muslim maupun umat beragama lain saling bersilaturahmi dan berlibur bersama. Rasa rindu untuk bertemu orang tua dan sanak saudara, rekan dan sahabat seakan terpuaskan dalam libur panjang yang baru berlalu.

Ratusan ribu bahkan jutaan keluarga melakukan perjalanan. Mereka ingin saling bertemu muka dan bercengkerama satu dengan yang lain. Anak-anak ingin bermain bersama, para remaja dan orang muda ingin saling berbagi pengalaman yang menakjubkan dan kisah lucu yang memicu gelak tawa. Para orang tua ingin berbagi cerita dan pergumulan dalam karya dan usaha.

Sementara itu, tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan hari libur untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata, kebun raya atau menikmati kuliner jaman dulu. Mereka menjerit bersama di wahana-wahana yang penuh tantangan atau saat tergelincir ketika berjalan di pematang sawah atau di bebatuan sungai. Canda tawa dan sikap saling menggoda memberi warna dalam setiap langkah mereka. Pelbagai kenangan pun tercipta, baik yang disimpan dalam batin maupun dalam memori smartphone yang terus mengabadikan setiap kejadian.

Tidak ketinggalan pula, warga Indonesia yang tinggal di luar negeri (baca: diaspora) kembali untuk menilik ibu pertiwi. Mereka pun menggelar kongres selama empat hari dimulai Sabtu (1/7). Hadir pula sebagai pembicara kunci Presiden AS ke-44 Barack Obama yang semasa kecil pernah tinggal beberapa waktu lamanya di Indonesia.

 

Patahkan kurungan gadget

Akhir-akhir ini para ahli psikologi telah “cerewet” untuk mengingatkan orang muda dan para pengguna gadget, khususnya smartphone, agar mereka tidak menjadi “anti sosial”. Dimana, hidup mereka terkurung gadget tersebut, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk tatap muka atau bercengkerama langsung dengan sanak keluarga, teman dan handai taulan. Tegur sapa antar tetangga rumah, bahkan antar anggota keluarga sangat berkurang intensitasnya sejak mereka menggenggam perangkat-perangkat itu.

Meski lewat smartphone dan berbagai aplikasi jejaring sosial memungkinkan mereka memiliki ribuan teman, tetapi perjumpaan langsung mempunyai nilai sosial yang berbeda. Pandangan mata langsung dapat menggerakkan hati untuk membangun relasi. Duduk berdekatan atau berhadapan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. Beraktivitas bersama akan mencipta kenangan yang tak terlupakan.

Sudah menjadi pemandangan umum, bahwa “smartphone dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Memang ketika orang terpisah oleh jarak yang jauh, smartphone sangat bermanfaat untuk mempertemukannya. Dimana mereka dapat berkomunikasi dengan saling memandang wajah. Namun, asyiknya bercakap lewat alat itu telah membuat orang tidak lagi peduli dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Akibatnya, perlahan-lahan mereka merasa saling asing satu dengan yang lain.

Namun, budaya silaturahmi telah mematahkan kurungan gadget itu. Budaya silaturahmi telah menggerakkan hati dan menumbuhkan kerinduan untuk bertemu secara langsung. Meski, orang dapat berkomunikasi jarak jauh dengan saling bertatap muka lewat perangkat-perangkat itu, tetapi kerinduan untuk bertemu telah mengalahkan kecanggihan semua alat-alat itu.

 

Lestarikan budaya

Tampak bahwa budaya silaturahmi telah “membebaskan” orang dari kurungan teknologi. Mereka pun lepas dari “kesendirian”. Walau harus menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer, mereka tetap antusias untuk bertemu sanak keluarga dan handai taulan. Meski badan terasa letih, karena aktivitas bersama yang tiada henti, tetapi hati terasa terisi.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari budaya tersebut. Silaturahmi telah terbukti dapat memperbarui relasi antar warga masyarakat yang sehari-harinya telah terkungkung teknologi. Oleh karena itu, hendaknya budaya tersebut dapat terus dilestarikan.

Usaha pelestarian budaya tentu tidaklah mudah. Penanaman nilai silaturahmi lintas generasi menjadi tantangan tersendiri untuk dipecahkan. Sementara itu, biaya transportasi dan akomodasi terus meningkat dari waktu ke waktu.

Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah telah membangun dan membarui infrastruktur transportasi, baik berupa jalan, jembatan, lintasan kereta maupun peningkatan kualitas moda transportasi. Tentu saja usaha-usaha pemerintah itu perlu dukungan segenap warga dalam bentuk patuh terhadap rambu-rambu, agar hasil kerja pemerintah dapat terpelihara. Selain itu, warga juga memiliki tugas untuk mengestafetkan nilai silaturahmi lintas generasi, agar mereka tidak membiarkan diri terkungkung teknologi, tetapi sebaliknya mereka mau menghidupi nilai-nilai budaya tersebut.

Perbincangan langsung dalam keluarga, tatap muka dengan tetangga dan beraktivitas bersama sanak saudara perlu terus dilakukan. Anak-anak sebagai generasi teknologi harus terus dilibatkan dalam perjumpaan langsung itu, agar dalam diri mereka terbentuk budaya silaturahmi.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM

(diterbitkan di Harian Bernas, 5 Juli 2017)