Pengguna internet terus bertambah. Mereka pun semakin aktif untuk mengakses internet setiap hari. Bahkan, banyak di antara mereka yang memiliki lebih dari satu akun di internet. Mereka makin terampil untuk menggunakan berbagai aplikasi, seperti email, twitter, instagram, blog dan web. Dengan bantuan mesin pencari (search engine), pengguna internet dengan mudah berpindah dari satu situs ke situs lainnya untuk mendapatkan informasi-informasi terkini.

Lembaga dan perusahaan pun berlomba-lomba membangun web. Mereka berusaha untuk mengkomunikasikan diri dan kegiatannya, serta menawarkan produknya lewat web tersebut. Mereka menyediakan beragam informasi termasuk berita-berita sebagai sarana untuk menarik pengunjung,. Mereka ingin semua kegiatan yang dilakukan, maupun konsep-konsep yang diciptakannya diketahui seluruh “warga” internet atau disebut netizen.

Sementara itu, berbagai kantor berita dan redaksi media publik telah menciptakan media-media elektronik (e-Media), seperti e-News, e-Tabloid dan e-Magazine yang diprediksi dapat menjangkau pembaca lebih luas lagi. Lewat e-Media itu, mereka berpacu memproduksi berita untuk disajikan setiap saat dengan biaya yang sangat murah.

 

Ketersediaan berita

Para pengakses internet pun semakin mudah untuk menemukan berita-berita atau informasi yang ingin dibacanya. Bahkan di internet, mereka dapat memilih berita atau informasi dalam bentuk tulisan maupun rekaman audio atau video.

Setiap berita atau informasi yang pernah terpublikasi akan terus tersimpan dan tersaji di lingkungan internet. Dengan demikian, setiap saat dibutuhkan, berita atau informasi itu dapat ditemukan dengan cepat. Hal seperti itu tidak terjadi pada media tercetak.

Para jurnalis maupun pengelola web dapat memproduksi berita dan mengunggahnya setiap saat dengan cepat dan murah. Mereka tidak harus menunggu proses cetak yang berbiaya tinggi untuk menyajikannya kepada netizen.

 

Polusi berita

Namun, banyaknya berita yang diproduksi itu ditengarai dapat menyebabkan “polusi” berita. Apalagi untuk kejadian atau kegiatan yang sama diunggah di berbagai situs web media elektronik, lembaga dan perusahaan. Hal itu belum terhitung, bila berita itu disebar luaskan oleh netizen melalui akunnya. Bisa saja, seorang netizen mendapatkan berita yang sama dengan mengakses web media elektronik maupun kiriman dari beberapa akun rekannya.

Selain itu, kompetisi adu cepat untuk menyajikan berita antar media elektronik maupun lembaga dan perusahaan telah membuat berita tidak tersaji secara komprehensif. Informasinya tidak dapat langsung memuaskan rasa ingin tahu, sehingga netizen harus meluangkan waktu untuk mengikuti informasi-informasi selanjutnya. Namun tidak jarang, di tengah mengikuti perkembangan informasi dari suatu peristiwa, perhatian netizen dialihkan oleh unggahan informasi tentang peristiwa yang lain lagi. Akibatnya, sejumlah netizen tidak dapat mengumpulkan informasi-informasi secara komprehensif dan pengetahuan terhadap suatu peristiwa tidak terbentuk secara lengkap.

Selain itu, berita atau informasi yang telah tercantum di halaman situs tidak selalu disiangi atau minimal di tata penyajiannya. Berita yang telah lewat bisa tetap tersaji di halaman utama suatu situs. Hal itu sering membingungkan netizen. Belum lagi, adanya situs-situs web yang dibuat hanya untuk keperluan promosi suatu kegiatan saja. Setelah kegiatan itu selesai, situs itu dibiarkan begitu saja. Tanpa disadari, berita dan informasi yang tersaji semakin lama semakin kadaluarsa.

 

Atasi polusi

Banyaknya unggahan berita dan informasi di lingkungan internet di satu sisi menyediakan pilihan yang sangat lengkap bagi pengakses. Namun, di sisi lain kondisi itu mengakibatkan “polusi” yang membuat netizen jenuh dan akhirnya mereka meninggalkan situs-situs penyaji berita.

Tentu saja kondisi itu tidak diinginkan semua pihak. Oleh karena itu, perlu segera dipikirkan langkah-langkah untuk menanggulanginya secara dini, agar internet tetap dapat berfungsi sebagai media penyaji berita dan informasi yang efektif dan efisien.

Pengaturan perlu dilakukan, agar berita dan informasi yang diunggah di internet dapat terorganisir dengan rapi. Pengaturan yang dilakukan bukan untuk membatasi kesempatan netizen dan lembaga dalam mengunggah informasi, tetapi untuk menjaga kesegaran sajian informasi.

Secara umum, setiap berita dan informasi yang baru tersaji di halaman depan. Sedangkan berita dan informasi yang telah lewat tetap dikelola di halaman-halaman selanjutnya. Dengan demikian, netizen dapat menikmati berita terbaru dan dapat merunut kembali informasi terdahulu bilamana dibutuhkan.

 

Penulis:

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S. Kom., MM

(Dimuat di Harian Bernas, Rabu 19 Juli 2017)